Senin, 26 Januari 2015

BAB 5

 Pria itu panik dan hampir tidak bisa berfikir saat melihat orang yang paling dikasihinya terbaring lemah diruang ICU. Steffany akhirnya mulai bisa tenang saat mendapat obat penenang dan penahan rasa sakit dari dokter. Kini ia tertidur seperti putri tidur yang menunggu sang pangeran datang untuk menyadarkan dan menyembuhkan sakitnya. Sayangnya Teddy tidak memiliki kekuatan miracle yang cukup untuk menyelamatkan sang putri dari kematian yang siap menjemput kapanpun.
Otaknya kacau, hatinya seperti dicabik-cabik sakit melandanya tepat didada. Ia masih terduduk dalam diam disamping tubuh Steffany yang tertidur dalam balutan peralatan rumah sakit yang membantunya beristirahat. Gadis ini makin kurus ,kulitnya yang putih terlihat pucat dan kini helai rambut dikepalanya makin menipis. Berapa lama lagi, berapa lama lagi pria itu masih bisa memberi kebahagiaan bagi kekasihnya. Berapa lama lagi ia memiliki kesempatan untuk memandang senyum wanita itu.
      Ia menghembuskan nafas berat, ia harus merokok untuk menenangkan pikirannya. Ia berjalan dengan langkah yang tampak tidak tenang keluar ruang ICU dilantai dua. Ia berjalan menuju Smooking Area dengan pikiran yang tidak menentu. Hingga seorang gadis bersweater Pink tiba-tiba menubruk tubuhnya secara tiba-tiba. Gadis berambut hitam panjang itu berceloteh menggunakan bahasa ibunya, hingga hampir terpelanting kelantai kalau saja ia tidak menahan tubuh gadis itu.
   “Sorry..sorry, aku tidak...” Ia menatap mata itu, mata yang seringkali membuatnya merasakan sesuatu, ia merasa tenang sejenak saat melihat mata hitam gadis mungil tersebut.
   “kau??” hanya kata-kata itu yang terlintas diotaknya saat itu.
   “Ah..maaf aku selalu saja merepotkan saat aku bertemu denganmu, dan maaf aku tadi tidak melihat jalan sampai menabrakmu”. Dan pria itu hanya memberikan senyum manisnya yang mebuat gadis mungil itu hampir pingsan.
   “sedang apa kau disini?” Tanya Ghea lagi akhirnya. Mendengar pertanyaan gadis itu, ia berfikir sejenak. Apakah ia harus mengatakan alasan ia disini, atau ia tak seharusnya memandang mata itu lagi yang membuatnya terhipnotis. “Seorang teman sedang sakit, teman baik”. Ujarnya akhirnya. Ghea mengangguk-angguk bertanda mengerti sambil melepaskan lilitan syal yang melingkar dilehernya.
   “kau mau menemaniku mengobrol?” Tawar Teddy tiba-tiba yang membuat mata gadis itu makin membulat dan terlihat sangat menggemaskan.
   “Baiklah, tapi sepertinya aku harus ke toilet sebentar, kau duluan saja nanti aku menyusul”. Gadis itu kemudian berlari kecil menuju toilet, dan hebat sebuah senyuman tiba-tiba melengkung dibibir pria itu.
      JJJ

   “kau baik-baik saja??” Tanya Ghea sambil memperhatikan pria disampingnya yang terus saja menciptakan kepulan asap dari rokoknya terus menerus.
   “Yah..kenapa??” Teddy hanya menanggapi singkat.
   “bohong kan? Kau tidak baik-baik saja jika kau terus menyesap batang rokok ditanganmu membabi buta seperti itu”. Ia menatap gadis disampingnya, dan meletakkan rokok yang masih tersisa setengah dilantai.
   “Baiklah, seperti ini??” Ghea mengagguk-angguk sambil tersenyum “gitu donk”.
Mereka terdiam menikmati keheningan dan larut dalam pikiran mereka masing-masing. Jika Ghea boleh memilih ia ingin saat ini tidak berakhir, ia ingin terus begini duduk disamping pria yang telah lama mencuri perhatiannya. Menghirup aroma wangi tubuhnya yang bisa menyebar dengan jelas jika ia berada didekatnya.
   “Apa semua orang yang berada didekatmu bisa merasa hangat, meskipun dimusim dingin begini??” Ujar pria itu secara tiba-tiba dengan kedua mata coklatnya yang memandang Ghea teduh.
Ia hanya terdiam tidak tahu harus bicara apa, ia harus mengartikan ini rayuan yang membuatnya melayang atau apa. Ia masih tetap mematung memandang pria disampingnya ini dengan perasaan yang tidak menentu.
   “Entahlah” Ghea mengendikkan bahu dan mengalihkan pandangan yang membuat pipinya terasa panas. Entah mengapa ia merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya, sampai-sampai ia harus berdiri untuk menyembunyikan bunyi degub jantungnya yang mungkin bisa terdengar oleh Teddy. Gadis bertubuh mungil itu berdiri sambil berjalan kesana – kemari seperti seseorang yang sedang salah tingkah.
   “Kau kenapa?” Tukas pria yang sedari tadi tetap memperhatikan tingkah gadis itu dengan cermat, ia mengetahui bahwa gadis itu sedang salah tingkah dan hal itu membuatnya tampak terlihat lebih manis.
   “Tidak, aku tidak apa-apa hanya saja kakiku sedikit kesemutan hehehe”. Ghea menggoyangkan tangannya kemudian mulai berpura-pura memijit kakinya yang jelas tidak sedang kesemutan.
   “Baiklah, bisa aku tahu no ponselmu??” Ghea berdiri mematung sambil menyelipkan kedua tangannya ke saku sweater. Ya satu lagi miracle yang selama ini hanya ada dalam mimpi dan bayangannya.
      JJJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar