“Charlie, kau benar-benar tidak bisa pulang denganku hari ini??” Tanya Ghea pada sahabatnya yang setelah kejadian tempo hari di kereta api membuat Charlie senantiasa menemani Ghea pulang demi keamanan gadis manis di sampingnya itu. Charlie menghela nafas memegang pundak ghea dan menatap kedua bola matanya yang bulat itu lekat-lekat.
“Sorry, untuk hari ini saja aku tidak bisa Ghea, mengertilah”. Ghea menatap pria didepannya itu dengan mulut dimanyunkan, matanya makin membulat bibirnya di gembungkan dan mendongak ke atas karena temannya itu lebih tinggi daripada dirinya.
“ Baiklah begini saja, kau hanya perlu mencari kereta yang ramai agar bila ada yang macam-macam padamu maka kau bisa teriak sekencang-kencangnya”. Jelas pria yang semenjak Ghea pindah ke London sudah bersedia menjadi sahabat terbaik bagi Ghea. Ghea memutar bola matanya, dan mendengus pasrah. Poni rambutnya jadi membelah karena nafasnya.
“Okee aku harap aku tidak celaka lagi”. Ujarnya pasrah.
“Jangan berkata begitu” Ujar charlie berlalu sambil tak lupa mencubit pipi Ghea yang sedikit Chubby, tidak seperti wanita eropa pada umumnya yang memiliki dagu tirus. Ghea berwajah lancip namun pipinya yang terlihat bersemu pink itu sedikit berisi, matanya bulat karena memang ia keturunan orang indonesia asli. Namun kulitnya bersih dan putih, mungkin karena ibunyapun berkulit putih. Sedangkan sahabatnya bernama Charlie adalah seorang pria Warga asli inggris, dengan rambutnya yang kecoklatan serta kedua bola matanya yang berwarna hijau kelabu. Dihiasi dengan kacamata minus dua yang bertengger diatas hidungnya yang mancung lurus.
Dan seperti apa yang dikatakan charlie tadi, kini Ghea harus menanti kereta yang sedikit penuh agar dia bisa merasa aman saat pulang kerja. Matanya menelusur mencari sosok yang mungkin dikenalinya agar bisa diajak ngobrol saat di kereta, namun sia-sia tak seorangpun yang ia kenal. Bel tanda kereta akan berangkat sudah meraung-raung, ghea mencari tempat duduk yang menurutnya aman untuk diduduki. Hingga ia menanggkap satu bangku kosong yang disekelilingnya dihuni oleh ibu-ibu. Dan sepertinya mereka orang baik dan tak akan mengganggunya.
“Permisi, boleh saya duduk di sini” tegurnya pada gerombolan ibu-ibu yang sedang berbincang dengan temanya. Ibu-ibu itu hanya menanggapi dengan senyuman dan berkata “sure”. Ghea memperhatikan ibu – ibu di sampingnya sekelebat, tidak ada yang mencurigakan, sepertinya semuanya baik – baik saja.
Ia menyandarkan punggungnya yang terasa berat di sandaran bangku kereta, ia meletakkan tas tangan dipangkuannya sekenanya. Matanya terpejam saking lelahnya, hingga ia terlena dan berkelana di dunia mimpi. Saat ia terbangun dengan suara seorang pria yang sepertinya tidak asing, ia membuka mata dan mendapati tas tangannya berada di tangan pria yang berdiri di depannya.
“Apa yang kau lakukan!! Kembalikan! Kembalikan” Ia dengan bebas memukuli pria di depannya dan merebut tasnya dari tangan pria itu, si pria hanya menghindari pukulan ghea dengan kedua tangannya. “Hei!! Hentikan ini aku!!”
“Kau pencuri dasar pencuri!!” ia tetap berteriak tanpa menyadari siapa pria itu dan ibu-ibu disampingnya sudah tidak ada.
“Aku Teddy!! Hei hentikan!!” Kedua mata Ghea membulat, berusaha memperhatikan pria didepannya lekat-lekat. Hingga hujan pukulan yang diterima pria itu terhenti. “ Hah? Apa yang kau lakukan?”. Ia masih kebingungan dan menunjuk tas tangan miliknya.
“Ibu-ibu yang tadi duduk dipinggirmu, dia mau mencuri tas tanganmu. Kau malah enak tidur pulas, untung aku memergokinya. Kalau tidak entah, mungkin kau akan ditendang keluar saat menyadari kau tidak membayar karcis karna kehilangan tas tanganmu”. Jelas Teddy panjang lebar menggunakan bahasa indonesia. Ghea tersenyum malu, pipinya pias kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. “ Kau menolongku berkali – kali, terima kasih banget yah” Ujar Ghea yang juga menggunakan bahasa Indonesia.
“hemmm gila, memangnya kamu ada apanya sih, sampai bikin para penjahat mendekat ke kamu”. Ujar Tedy sambil merapikan pakaian dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya kemudian duduk di samping gadis mungil disampingnya itu.
“Aku berfikir karena aku kecil” Jawab Ghea sambil memanyunkan bibirnya. Teddy memandang cewek disampingnya dengan senyuman tersungging yang tidak diketahui oleh Ghea. Pria itu memicingkan kedua matanya dan meletakkan tangan di atas kepala Ghea seolah mengukur tinggi tubuh Ghea.
“Kecil?? Uhmm sepertinya tidak”. Ujarnya santai “Iyaa kan aku sedang duduk, makanya tinggi kita sama”. Ghea menjawab dengan memasang wajah bosan yang kontan membuat pria disampingnya tertawa.
JJJ
Mereka berjalan beriringan berdua ditengah cuaca dingin kota London, mereka memutuskan untuk turun di daerah Canary Wharf. Teddy bilang ia ingin mentraktir Ghea makan malam di Boisdale of Canary Wharf Restaurant, disana merupakan tempat dinner yang bisa dibilang romantis dengan service yang amat baik. Namun Ghea sempat bingung karena tidak tahu dimana tempatnya. Karena selama ia tinggal di london yang ia hafal rutenya hanyalah arah rumahnya hingga ke Tempat kerja, dan daerah menuju kampusnya. Kini ia hanya menurut dengan Teddy karena sepertinya pria disampingnya ini lebih tau seluk beluk kota London daripada dirinya. Lagi pula tadi Teddy bilang katanya dia baru saja gajian, karena melihat wajah Ghea yang kelihatan kasihan sekali, maka ia berbaik hati untuk mentraktirnya makan malam.
“Wow!! Kau serius mau mentraktirku di tempat seperti ini??” Mata Ghea membulat ketika tiba di depan sebuah Gedung yang tampak mewah. Dengan jendela kaca besar yang memperlihatakan ruangan di dalamnya dan tertata rapi. Kursi dan meja kayu ditata perblok empat orang menghadap keluar. Dengan latar belakang meja bar yang dindingnya terbuat dari keramik berwarna coklat kayu. “Tentu saja, kenapa??” Ucap Teddy mengagetkannya. “Sudah ayo masuk, biar aku semua yang bayar tenang saja”.
Teddy menarik lengan gadis itu dan menggandengnya, Ghea makin tidak percaya diantara rasa terkejutnya kini ia merasa aneh, bahagia sekaligus kikuk. Ia memasuki restaurant sembari memandangi tangan yang menggandengnya. Teddy masih tetap menggenggam jemari Ghea yang terasa dingin karena selama dijalan tadi ia lupa memakai sarung tangan.
“Sepertinya disana” Ujar pria itu menunjuk bangku kosong yang terletak menghadap keluar. Romantis sekejap itu yang terpikir oleh Ghea saat melihat lokasinya. Ia duduk berhadapan dengan Teddy, dengan posisi melihat pemandangan Luar dari kaca jendela besar disamping mereka.
“Kau suka Ghea?”
“Hmm tentu saja, aku tidak pernah ke tempat semewah ini, lux n romantic”.
“Yaa semua wanita suka dengan hal-hal romantis”. Usai Teddy berkata demikian tiba-tiba
seorang pria berkemeja putih dihiasi dasi kupu-kupu dilehernya, dipadu dengan celana bahan hitam menghampiri mereka dengan membawakan buku menu dan meletakkanya di atas meja. Sambil mengoceh menawari mereka makanan serta minuman yang spesial di restaurant ini. Ghea mengerutkan kening sambil melihat menu yang ada didalam daftar, ia tidak mengerti makanan apa saja ini. Ia tidak mau makan babi, memang tidak boleh karena dia seorang muslim dan sepertinya minumannya Wine, Arrggghhh dia tidak boleh itu semua ia bingung dan berbisik ke arah Teddy.
“ Sepertinya semua makanan ini tidak boleh aku makan hehe” Ujarnya menggunakan bahasa indonesia sambil menutupi mulut dari arah pelayan yang berdiri di sampingnya.
“Oh heheh tenang, aku tau menu spesial disini ada steak sapi kok, enak banget sausnya dan dagingnya juga empuk kita pesan itu saja yah?” tawarnya, “Baiklah” Jawab Ghea.
Akhirnya mereka memesan Steak sapi dengan minuman Cola, tidak lupa makanan pembuka kesukaan Ghea cocolate Ice cream. Suasana makin romantis ketika alunan music instrumental Blues mengalun merdu menjadi Backsound obrolan mereka. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang paling menyenangkan dalam hidup Ghea, sesuatu yangmiracle. Semua hanya ada dalam bayangan dan angannya saat mengagumi sosok pria dihadapannya selama ini, dan kini semuanya jadi nyata. Entah apa yang direncanakan tuhan.
JJJ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar