BAB 1
“Ya ya aku sudah tau, yaa nanti akan aku bawakan. Yaa tentu saja”. Suara pria itu menarik perhatian Ghea. Ia melongo memperhatikan pria berkemeja hitam didepan toko tempat ia bekerja yang sedang sibuk dengan ponsel di telinganya. Pria itu tidak menyadari, bahkan tidak perduli dengan kehadirannya yang tiap hari memperhatikan pria tersebut. Ghea merengut ketika usahanya untuk mencuri perhatian pria tersebut dengan berpura-pura membuang sampah keluar toko ternyata tidak membuahkan hasil. Pria tersebut justru menutup telpon dan langsung masuk ke kantornya yang berada di sebrang toko tempat Ghea bekerja.
“Kenapa cemberut??” Ujar salah seorang karyawan lain, teman kerja Ghea ketika ghea kembali dari luar.
“Tidak apa-apa”. Jawabnya singkat sembari bertopang dagu di meja kasir. Charlie adalah teman kerja sekaligus teman satu kampus Ghea di City University London, ia sangat hafal dengan tingkah laku maupun apa saja yang bisa membuat gadis itu galau. Termasuk pria sebrang toko yang sering di ceritakannya pada Charlie.
“Pria itu lagi??” Ujar Charlie singkat sembari menata Tumpukan Roti di atas Baki ke dalam lemari kaca disebelah tempat Ghea duduk. Ia mengangguk dengan malas dan makin memanyunkan bibirnya.
“Kau selalu tahu diriku, semenjak aku bekerja disini sepertinya aku jarang melihatnya mampir ke toko kita, bahkan bisa di bilang tidak pernah”.
“Kau saja yang tidak beruntung, kemarin dia kemari membeli Kue tart, entah untuk siapa dan aku tidak terlalu antusias mengajaknya ngobrol” Jelas Charlie sembari berjalan menuju dapur untuk mengembalikan baki. Mata Ghea membulat dan beranjak dari tempat duduknya mengikuti langkah charlie dengan mata berbunga-bunga.
“Kapan?? Kenapa kau tidak memanggilku??”
“Apa aku harus berteriak-teriak memanggil namamu saat dia ada di depanku?? Lagi pula saat itu kau sedang sibuk sendiri di dapur”. Ghea menghembuskan nafas panjang dan kembali ke meja kasir. Matanya menerawang ke arah pintu kaca yang tembus pandang dan jelas memperlihatkan kantor keuangan didepan toko itu. Disana si pria cool itu bekerja, dan Ghea tertarik untuk mengenalnya. Bagaimana caranya ia tidak tahu, yang jelas ia menyukai pria itu walau Ghea hanya bisa memandanginya dari balik pintu kaca tokonya.
Ghea merapatkan jaket bulunya, sepertinya iklim diluar kini lebih dingin dari biasanya. Karena sekarang memang memasuki musim dingin. Rambutnya yang hitam panjang di biarkan tergerai menutupi kedua telinganya, ia berjalan meninggalkan Toko saat jam kerjanya sudah selesai. Tak lupa matanya menelusur ke arah kantor keuangan di depan, ia melihat suasananya terlihat sepi. Mungkin pria itu sudah pulang, ia melongok ke arah pelataran parkir di depan kantor. Mobil hitam yang biasa terpakir disana juga tidak ada, mungkin itu mobilnya.
Ia menghembuskan nafas dan berfikir pasrah, ia hanya bisa mengagumi pria yang tampak sangat maskulin dengan baju kemejanya. Serta kulit sawo mentah yang tampaknya seperti keturunan asia. Terutama rambut legamnya yang sama dengan dirinya. Namun ia tidak bisa bertegur sapa dengan pria itu, ia malu. Ia takut usahanya sia-sia dan ia akan menjadi gadis bodoh saat ia dicuekin.
Ia tiba di salah satu stasiun bawah tanah Dockland Light Railway. Usai mengantongi tiket ia menyelinap ke dalam kereta api bawah tanah berwarna merah. Ia memilih untuk duduk di bangku yang masih kosong, sepertinya terlihat nyaman duduk sendirian di situ sambil membaca buku. Ia memangku tas tangannya dan mengeluarkan novel klasik kesukaanya. Hingga tiba-tiba suara berat seorang pria mengagetkannya.
“Bisa kami duduk di sini??” Ujar Pria berperawakan eropa dengan tubuh yang besar dan sedikit tampang menakutkan. Ia mengangkat kepala melihat tiga pria yang sedang menunggu persetujuannya. Hatinya jadi gelisah, namun ia berusaha menyembunyikan pikiran buruknya yang sudah melantur kemana-mana.
“Hmm Tentu, silahkan saja” Ucapnya mempersilahkan sambil menggeser letak duduknya lebih kedalam. Ia kembali mengalihkan perhatian pada buku bersampul coklat di tangannya, sepertinya ketiga pria sangar di sekelilingnya sedang memperhatikannya lekat-lekat. Ia berusaha bersikap setenang mungkin untuk menyembunyikan kegelisahan dihatinya, ia ingin pergi untuk mencari tempat duduk lain. Namun ia tidak tahu harus duduk dimana, ia juga merasa tidak enak jika tiba-tiba harus pergi. Sikap yang diajarkan orangtuanya di indonesia masih melekat hingga sekarang.
Nafasnya terasa sesak, pikirannya melayang dan makin hawatir. Dua pasang mata pria di hadapannya masih memandang dengan cermat, entah apa yang diinginkan pria dengan penampilan sangar itu. Ia makin tidak tahan, akhirnya ia mengambil nafas satu kali dan membulatkan tekat untuk berdiri.
“Permisi”. Ucapnya beranjak sambil tersenyum melewati pria bertato disampingnya, yang justru makin mengagetkan. Pria itu berani mencengkeram tangannya dengan kuat, dan tatapan mata pria itu membuatnya makin risih. Ia mencak-mencak berusaha melarikan diri, dengan sekuat tenaga, namun cengkraman tangan pria itu sangat kuat. Dan kedua pria lain juga berusaha menghalangi jalannya.
“Mau kemana nona cantik??” Ucap Pria bertindik yang tadi meminta izin untuk duduk di dekatnya.
“Lepaskan!! Apa mau kalian!!” Ia tidak tahan dan berteriak-teriak, hingga tanpa sadar tiba-tiba tubuhnya terhempas kedekapan seseorang. Ia mengerutkan dahi dan memejamkan mata, sangat jelas ia sedang ketakutan kedua tangannya menggenggam tas tangannya erat-erat.
“Apa yang kalian lakukan??” Suara itu mengagetkan Ghea, membuatnya melotot dan mendongak keatas. Ia sepertinya mengenali pria itu namun otaknya masih berputar terlalu lama untuk mengingat bahwa pria itu adalah pria pujaannya yang bekerja di depan Toko.
“Jangan sentuh, atau kalian akan di lempar keluar dari kereta ini” Suara pria itu mengancam yang membuat para pria garang itu hanya melotot dengan pandangan benci dan membiarkan Ghea berlalu. Pria itu dengan sigap memeluknya dan mengantarnya ke tempat duduk lain di dekat pintu gerbong kereta tempat ia duduk. Entah apa yang membuat orang-orang di sekitarnya hanya menoleh dan menggelengkan kepala. Mungkin jika pria tadi tidak menyelamatkannya, entah apa yang akan terjadi padaku, pikirnya. “Kau tidak apa-apa??” Suara itu memecahkan lamunan Ghea ketika ia sudah duduk di samping pria yang menyelamatkannya tadi. Ghea tersenyum kecut memeluk tas tangannya sembari mengangguk. “ Terima kasih, aku tidak tahu kalau kau tidak menolongku tadi mungkin..” ia terlalu ngeri untuk menjelaskannya.
“Baiklah, yang terpenting kau tidak apa-apa” Ketika pria itu berkata demikian barulah Ghea menyadari bahwa pria itu yang menarik perhatiannya selama ini. Pria berwajah ramah dengan kulit sawo mentah penghuni kantor keuangan depan Toko. Matanya menelusur memperhatikan pria disampingnya itu, ia tidak tahu apa yang harus dirasakannya saat ini, Entahlah.
“Kau.. namamu siapa??” Ghea melotot dan menunjuk ke arah dirinya saat mendengar pertanyaan pria itu. “A aku, Aku ghea” Ucapnya tersenyum, pria itu melengkungkan bibir dan melanjutkan “ Kau dari indonesia? Wajahmu, kelihatannya kau dari indonesia “.
“Yaa aku dari indonesia, baru beberapa bulan disini jadi aku masih belum terbiasa dengan lingkungan disini” Pria itu tersenyum simpul kemudian mengangguk-angguk. Kemudian meneruskan perbincangannya dengan bahasa indonesia.
“Aku juga dari indonesia, Namaku Tedy”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar