“Ghea kau darimana saja?? Seharusnya aku awas dengan dirimu yang mudah menyelip kemudian menghilang”. Charlie berceloteh dengan wajah kesal saat melihat Ghea yang berlari kecil sambil tersenyum polos menghampiri tante Ana dan Charlie.
“Kau!!” Raut muka Ghea berubah jadi manyun.
“Harusnya kau tahu, kami menghawatirkanmu”. Ujar charlie datar sambil menyentuh kepala Ghea dan berlalu pergi menuju pelataran parkir mobil. Ia yang diperlakukan seperti itu hanya bisa melongo sambil menatap sahabatnya dengan perasaan aneh.
“Yang dari tadi berceloteh mencarimu ya Charlie nduk”. Ujar tante Ana kemudian setelah melihat charlie menjauh kepada Ghea. Mendengar pernyataan tantenya ia mengerutkan kening heran, ada apa dengan sahabatnya ini. Belakangan sahabatnya ini memang lebih sering bersikap manis terhadapnya, entah sejak kapan. Memang ada yang berbeda dengan cowok itu, tetapi ia tidak mau ambil pusing karena baginya itulah Charlie sahabat terbaiknya diseluruh dunia.
JJJ
Teddy menyandarkan punggungnya yang terasa lelah di sandaran sova yang terletak di samping tempat tidur Steffany. Kedua matanya dipejamkan dan ia mendongak ke atas berusaha merasakan udara untuk memenuhi kebutuhan oksigen di paru-parunya, yang belakan terasa berat dan sesak. Mungkin kedua matanya terpejam namun otaknya tidak berhenti berfikir, berfikir apa yang harus ia lakukan. Bagaimanpun ia seperti menghadapi mayat hidup, waktunya tidak banyak untuk memberi sedikit kebahagiaan pada gadis yang kini telah tertidur seperti putri tidur dirumahnya. Setelah mendapat perawatan dokter dan mendapat obat penenang kini Steffany bisa beristirahat dengan tenang dikamar rumah sakit.
Teddy masih tetap setia menemaninya disana, menemani kekasihnya yang amat ia cintai. Betapa malang gadis ini, tidak ada yang ia miliki didunia ini kecuali dirinya “Teddy”. Orangtuanya telah lama meninggal dalam sebuah kebakaran kapal pesiar saat akan berlibur ke irlandia. Sedangkan gadis ini yang saat itu masih berusia 12 tahun berusaha menyelamatkan diri dengan melompat ke laut walaupun ia mengerti ia tidak bisa berenang. Dan keajaiban terjadi ketika seorang nelayan menemukanya dengan keadaan tak sadarkan diri di pantai Renvyle Peninsula sebelah barat kota Galway, irlandia. Namun gadis ini masih bertahan hidup hingga sekarang dengan diagnosa dokter bahwa ia terlalu banyak menelan air laut dan banyak zat garam yang mengendap di otaknya.
Yaa karena tuhan mencintai gadis ini dan memberikan Teddy kesempatan untuk membahagiakannya, satu-satunya orang yang ia miliki didunia ini adalah teddy. Mengingat hal itu teddy tak kuasa menahan airmatanya yang tiba-tiba luluh. Ia memang seorang pria namun bagaimana mungkin ia tahan melihat orang yang paling ia cintai ini menderita.
“Dear...” Steffany memanggilnya dengan suara yang masih serak. Membuat pria itu membuka mata dan mendekati gadis itu.
“yaa aku disini hon” Ujarnya sambil sembunyi-sembunyi menghapus airmatanya.
“kau.. me..nangis?” Steffany menyentuh pipi teddy dengan tangannya yang terasa dingin dikulit pria itu.
“Tidak hon, aku bahagia kau masih disisiku” Ia tersenyum dan mendaratkan ciuman lembut dikening, gadis yang kini menggenggam tangan Teddy.
“Aku bosan, aku ingin jalan-jalan kau mau mengantarku??”
“Tentu hon, kemanapun kau mau”.
JJJ
Charlie bergegas kembali ke rumah sakit ketika menyadari bahwa ponselnya tertinggal di kamar rawat Tante Claudia. Bagaimana bisa ia melupakan ponselnya, mungkin karena ia panik menyadari Ghea tiba-tiba menghilang dari sampingnya tadi. Bagaimana ia bisa kacau begini saat menghadapi gadis itu, padahal gadis itu hanya menghilang sebentar kemudian kembali. Apa yang akan terjadi jika gadis itu benar-benar meninggalkannya, ia mengerjapkan matanya dan kembali memperbaiki letak kacamatanya.
Apa yang baru saja ia pikirkan?? Kenapa otaknya jadi mengigau terlalu jauh. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit kemudian melewati taman rumah sakit yang kini tampak putih terkena salju yang menutupi daun dan tumbuhan disana. Kedua matanya menangkap sosok perempuan yang tampaknya tidak asing baginya.
Ia hendak mendekati perempuan itu ketika seorang pria yang tiba-tiba mendekati perempuan itu membawakan bungan dan mencium keningnya. Charlie mengernyitkan dahi melihat pria itu, sepertinya ia mengenali sosok pria itu.
Sesaat ia menuruti hasratnya untuk diam disana dan memperhatikan kedua orang tersebut, hingga ia menyadari bahwa pria itu adalah, pria yang sering diceritakan oleh Ghea.Kedua kakinya seperti terhenti untuk melangkah, ia ingin memastikan apa hubungan mereka berdua. Apakah benar pria itu hanya ingin mempermainkan perasaan Ghea, ia tidak terima.
Entah mengapa melihat situasi itu membuatnya ingin marah dan melempar pria itu ke laut, ia menahan nafas dan mengenggam tangannya erat. Tidak mungkin ia membuat keributan disini, tidak ia harus mengatakn hal ini pada Ghea. Gadis itu harus tau kenyataan yang sebenarnya, ia tidak seharusnya menyukai pria yang salah. Bukan Pria itu, bukan.
JJJ
Ghea sedang berkutat dengan cat kuku berwarna hijau tosca untuk menghiasi kuku – kukunya, saat tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia segera menekan tombol answer dan menyelipkan ponselnya diantara pundak dan telinganya.
“hallo”
“Kau dimana??” Terdengar suara Charlie dari seberang ponsel.
“At home, ada apa??”
“Aku akan kesana, tunggu aku”, dan seketika itu ponselnya mendengarkan buntyi tuut yang berkepanjangan. Ghea memandangi ponselnya sambil mengernyitkan dahi merasa heran. Usai menyelesaikan memberi warna di kesepuluh kuku jari tangannya, ia terdiam sambil menghembuskan nafas berat.
Pikirannya melayang pada pria yang selama ini membuatnya selalu berdebar, bahkan saat memikirkan diapun Ghea bisa senantiasa tersenyum dan jadi berdebar-debar sendiri. Apa benar ia menyukai pria itu, atau hanya perasaan kagum sementara saja yang suatu saat bisa hilang jika ia tidak bertemu dengannya lagi. Ia mengerjap sekali dan menepuk pelan keningnya, ia kembali memandang ponselnya yang kini tergeletak di tempat tidur disampingnya.
Setelah memberikan no ponselnya pada Teddy hari itu, sepertinya masih belum ada tanda bahwa pria itu menghubunginya. Ia menyesalkan karena saat itu ia tidak balik meminta no ponsel pria itu. Ia menggembungkan pipinya dan menyandarkan dagunya diatas lutut.
“Ghea!! Charlie’s home!! Ia mencarimu!!” Terdengar Suara Tante Ana yang berteriak lantang dari lantai bawah. “Ya Tante!!!”. Ia segera berlari keluar kamar dan menuruni tangga menemui Charlie yang kini tengah asik dengan majalah otomotif kesenangannya.
“Hy Charlie, ada apa kau..”
“Aku ingin bicara sesuatu denganmu, tapi sepertinya tidak disini. Kau ada waktu sekarang??”
“Sekarang??” Ghea menegaskan pernyataan Charlie sambil memutar bola matanya.
“Kenapa?? Kau sibuk??”, “Tidak juga, baiklah tunggu Sebentar, aku ganti baju dulu”. Ghea berlalu menuju kamarnya dengan penuh pertanyaan, apa yang sebenarnya akan dibicarakan Charlie.
JJJ