Senin, 26 Januari 2015

BAB 6

“Ghea kau darimana saja?? Seharusnya aku awas dengan dirimu yang mudah menyelip kemudian menghilang”. Charlie berceloteh dengan wajah kesal saat melihat Ghea yang berlari kecil sambil tersenyum polos menghampiri tante Ana dan Charlie.
   “Kau!!” Raut muka Ghea berubah jadi manyun.
   “Harusnya kau tahu, kami menghawatirkanmu”. Ujar charlie datar sambil menyentuh kepala Ghea dan berlalu pergi menuju pelataran parkir mobil. Ia yang diperlakukan seperti itu hanya bisa melongo sambil menatap sahabatnya dengan perasaan aneh.
   “Yang dari tadi berceloteh mencarimu ya Charlie nduk”. Ujar tante Ana kemudian setelah melihat charlie menjauh kepada Ghea. Mendengar pernyataan tantenya ia mengerutkan kening heran, ada apa dengan sahabatnya ini. Belakangan sahabatnya ini memang lebih sering bersikap manis terhadapnya, entah sejak kapan. Memang ada yang berbeda dengan cowok itu, tetapi ia tidak mau ambil pusing karena baginya itulah Charlie sahabat terbaiknya diseluruh dunia.
      JJJ

   Teddy menyandarkan punggungnya yang terasa lelah di sandaran sova yang terletak di samping tempat tidur Steffany. Kedua matanya dipejamkan dan ia mendongak ke atas berusaha merasakan udara untuk memenuhi kebutuhan oksigen di paru-parunya, yang belakan terasa berat dan sesak. Mungkin kedua matanya terpejam namun otaknya tidak berhenti berfikir, berfikir apa yang harus ia lakukan. Bagaimanpun ia seperti menghadapi mayat hidup, waktunya tidak banyak untuk memberi sedikit kebahagiaan pada gadis yang kini telah tertidur seperti putri tidur dirumahnya. Setelah mendapat perawatan dokter dan mendapat obat penenang kini Steffany bisa beristirahat dengan tenang dikamar rumah sakit.
   Teddy masih tetap setia menemaninya disana, menemani kekasihnya yang amat ia cintai. Betapa malang gadis ini, tidak ada yang ia miliki didunia ini kecuali dirinya “Teddy”. Orangtuanya telah lama meninggal dalam sebuah kebakaran kapal pesiar saat akan berlibur ke irlandia. Sedangkan gadis ini yang saat itu masih berusia 12 tahun berusaha menyelamatkan diri dengan melompat ke laut walaupun ia mengerti ia tidak bisa berenang. Dan keajaiban terjadi ketika seorang nelayan menemukanya dengan keadaan tak sadarkan diri di pantai Renvyle Peninsula sebelah barat kota Galway, irlandia. Namun gadis ini masih bertahan hidup hingga sekarang dengan diagnosa dokter bahwa ia terlalu banyak menelan air laut dan banyak zat garam yang mengendap di otaknya.
Yaa karena tuhan mencintai gadis ini dan memberikan Teddy kesempatan untuk membahagiakannya, satu-satunya orang yang ia miliki didunia ini adalah teddy. Mengingat hal itu teddy tak kuasa menahan airmatanya yang tiba-tiba luluh. Ia memang seorang pria namun bagaimana mungkin ia tahan melihat orang yang paling ia cintai ini menderita.
   “Dear...” Steffany memanggilnya dengan suara yang masih serak. Membuat pria itu membuka mata dan mendekati gadis itu.
   “yaa aku disini hon” Ujarnya sambil sembunyi-sembunyi menghapus airmatanya.
   “kau.. me..nangis?” Steffany menyentuh pipi teddy dengan tangannya yang terasa dingin dikulit pria itu.
   “Tidak hon, aku bahagia kau masih disisiku” Ia tersenyum dan mendaratkan ciuman lembut dikening, gadis yang kini menggenggam tangan Teddy.
   “Aku bosan, aku ingin jalan-jalan kau mau mengantarku??”
   “Tentu hon, kemanapun kau mau”.
      JJJ

   Charlie bergegas kembali ke rumah sakit ketika menyadari bahwa ponselnya tertinggal di kamar rawat Tante Claudia. Bagaimana bisa ia melupakan ponselnya, mungkin karena ia panik menyadari Ghea tiba-tiba menghilang dari sampingnya tadi. Bagaimana ia bisa kacau begini saat menghadapi gadis itu, padahal gadis itu hanya menghilang sebentar kemudian kembali. Apa yang akan terjadi jika gadis itu benar-benar meninggalkannya, ia mengerjapkan matanya dan kembali memperbaiki letak kacamatanya.
Apa yang baru saja ia pikirkan?? Kenapa otaknya jadi mengigau terlalu jauh. Ia  berjalan menyusuri lorong rumah sakit kemudian melewati taman rumah sakit yang kini tampak putih terkena salju yang menutupi daun dan tumbuhan disana. Kedua matanya menangkap sosok perempuan yang tampaknya tidak asing baginya.
                Ia hendak mendekati perempuan itu ketika seorang pria yang tiba-tiba mendekati perempuan itu membawakan bungan dan mencium keningnya. Charlie mengernyitkan dahi melihat pria itu, sepertinya ia mengenali sosok pria itu.
   Sesaat ia menuruti hasratnya untuk diam disana dan memperhatikan kedua orang tersebut, hingga ia menyadari bahwa pria itu adalah, pria yang sering diceritakan oleh Ghea.Kedua kakinya seperti terhenti untuk melangkah, ia ingin memastikan apa hubungan mereka berdua. Apakah benar pria itu hanya ingin mempermainkan perasaan Ghea, ia tidak terima.
Entah mengapa melihat situasi itu membuatnya ingin marah dan melempar pria itu ke laut, ia menahan nafas dan mengenggam tangannya erat. Tidak mungkin ia membuat keributan disini, tidak ia harus mengatakn hal ini pada Ghea. Gadis itu harus tau kenyataan yang sebenarnya, ia tidak seharusnya menyukai pria yang salah. Bukan Pria itu, bukan.
      JJJ

   Ghea sedang berkutat dengan cat kuku berwarna hijau tosca untuk menghiasi kuku – kukunya, saat tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia segera menekan tombol answer dan menyelipkan ponselnya diantara pundak dan telinganya.
   “hallo”
   “Kau dimana??” Terdengar suara Charlie dari seberang ponsel.
   “At home, ada apa??”
   “Aku akan kesana, tunggu aku”, dan seketika itu ponselnya mendengarkan buntyi tuut yang berkepanjangan. Ghea memandangi ponselnya sambil mengernyitkan dahi merasa heran. Usai menyelesaikan memberi warna di kesepuluh kuku jari tangannya, ia terdiam sambil menghembuskan nafas berat.
Pikirannya melayang pada pria yang selama ini membuatnya selalu berdebar, bahkan saat memikirkan diapun Ghea bisa senantiasa tersenyum dan jadi berdebar-debar sendiri. Apa benar ia menyukai pria itu, atau hanya perasaan kagum sementara saja yang suatu saat bisa hilang jika ia tidak bertemu dengannya lagi. Ia mengerjap sekali dan menepuk pelan keningnya, ia kembali memandang ponselnya yang kini tergeletak di tempat tidur disampingnya.
   Setelah memberikan no ponselnya pada Teddy hari itu, sepertinya masih belum ada tanda bahwa pria itu menghubunginya. Ia menyesalkan karena saat itu ia tidak balik meminta no ponsel pria itu. Ia menggembungkan pipinya dan menyandarkan dagunya diatas lutut.
   “Ghea!! Charlie’s home!! Ia mencarimu!!” Terdengar Suara Tante Ana yang berteriak lantang dari lantai bawah.    “Ya Tante!!!”. Ia segera berlari keluar kamar dan menuruni tangga menemui Charlie yang kini tengah asik dengan majalah otomotif kesenangannya.
   “Hy Charlie, ada apa kau..”
   “Aku ingin bicara sesuatu denganmu, tapi sepertinya tidak disini. Kau ada waktu sekarang??”
   “Sekarang??” Ghea menegaskan pernyataan Charlie sambil memutar bola matanya.
   “Kenapa?? Kau sibuk??”, “Tidak juga, baiklah tunggu Sebentar, aku ganti baju dulu”. Ghea berlalu menuju kamarnya dengan penuh pertanyaan, apa yang sebenarnya akan dibicarakan Charlie.
      JJJ

BAB 5

 Pria itu panik dan hampir tidak bisa berfikir saat melihat orang yang paling dikasihinya terbaring lemah diruang ICU. Steffany akhirnya mulai bisa tenang saat mendapat obat penenang dan penahan rasa sakit dari dokter. Kini ia tertidur seperti putri tidur yang menunggu sang pangeran datang untuk menyadarkan dan menyembuhkan sakitnya. Sayangnya Teddy tidak memiliki kekuatan miracle yang cukup untuk menyelamatkan sang putri dari kematian yang siap menjemput kapanpun.
Otaknya kacau, hatinya seperti dicabik-cabik sakit melandanya tepat didada. Ia masih terduduk dalam diam disamping tubuh Steffany yang tertidur dalam balutan peralatan rumah sakit yang membantunya beristirahat. Gadis ini makin kurus ,kulitnya yang putih terlihat pucat dan kini helai rambut dikepalanya makin menipis. Berapa lama lagi, berapa lama lagi pria itu masih bisa memberi kebahagiaan bagi kekasihnya. Berapa lama lagi ia memiliki kesempatan untuk memandang senyum wanita itu.
      Ia menghembuskan nafas berat, ia harus merokok untuk menenangkan pikirannya. Ia berjalan dengan langkah yang tampak tidak tenang keluar ruang ICU dilantai dua. Ia berjalan menuju Smooking Area dengan pikiran yang tidak menentu. Hingga seorang gadis bersweater Pink tiba-tiba menubruk tubuhnya secara tiba-tiba. Gadis berambut hitam panjang itu berceloteh menggunakan bahasa ibunya, hingga hampir terpelanting kelantai kalau saja ia tidak menahan tubuh gadis itu.
   “Sorry..sorry, aku tidak...” Ia menatap mata itu, mata yang seringkali membuatnya merasakan sesuatu, ia merasa tenang sejenak saat melihat mata hitam gadis mungil tersebut.
   “kau??” hanya kata-kata itu yang terlintas diotaknya saat itu.
   “Ah..maaf aku selalu saja merepotkan saat aku bertemu denganmu, dan maaf aku tadi tidak melihat jalan sampai menabrakmu”. Dan pria itu hanya memberikan senyum manisnya yang mebuat gadis mungil itu hampir pingsan.
   “sedang apa kau disini?” Tanya Ghea lagi akhirnya. Mendengar pertanyaan gadis itu, ia berfikir sejenak. Apakah ia harus mengatakan alasan ia disini, atau ia tak seharusnya memandang mata itu lagi yang membuatnya terhipnotis. “Seorang teman sedang sakit, teman baik”. Ujarnya akhirnya. Ghea mengangguk-angguk bertanda mengerti sambil melepaskan lilitan syal yang melingkar dilehernya.
   “kau mau menemaniku mengobrol?” Tawar Teddy tiba-tiba yang membuat mata gadis itu makin membulat dan terlihat sangat menggemaskan.
   “Baiklah, tapi sepertinya aku harus ke toilet sebentar, kau duluan saja nanti aku menyusul”. Gadis itu kemudian berlari kecil menuju toilet, dan hebat sebuah senyuman tiba-tiba melengkung dibibir pria itu.
      JJJ

   “kau baik-baik saja??” Tanya Ghea sambil memperhatikan pria disampingnya yang terus saja menciptakan kepulan asap dari rokoknya terus menerus.
   “Yah..kenapa??” Teddy hanya menanggapi singkat.
   “bohong kan? Kau tidak baik-baik saja jika kau terus menyesap batang rokok ditanganmu membabi buta seperti itu”. Ia menatap gadis disampingnya, dan meletakkan rokok yang masih tersisa setengah dilantai.
   “Baiklah, seperti ini??” Ghea mengagguk-angguk sambil tersenyum “gitu donk”.
Mereka terdiam menikmati keheningan dan larut dalam pikiran mereka masing-masing. Jika Ghea boleh memilih ia ingin saat ini tidak berakhir, ia ingin terus begini duduk disamping pria yang telah lama mencuri perhatiannya. Menghirup aroma wangi tubuhnya yang bisa menyebar dengan jelas jika ia berada didekatnya.
   “Apa semua orang yang berada didekatmu bisa merasa hangat, meskipun dimusim dingin begini??” Ujar pria itu secara tiba-tiba dengan kedua mata coklatnya yang memandang Ghea teduh.
Ia hanya terdiam tidak tahu harus bicara apa, ia harus mengartikan ini rayuan yang membuatnya melayang atau apa. Ia masih tetap mematung memandang pria disampingnya ini dengan perasaan yang tidak menentu.
   “Entahlah” Ghea mengendikkan bahu dan mengalihkan pandangan yang membuat pipinya terasa panas. Entah mengapa ia merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya, sampai-sampai ia harus berdiri untuk menyembunyikan bunyi degub jantungnya yang mungkin bisa terdengar oleh Teddy. Gadis bertubuh mungil itu berdiri sambil berjalan kesana – kemari seperti seseorang yang sedang salah tingkah.
   “Kau kenapa?” Tukas pria yang sedari tadi tetap memperhatikan tingkah gadis itu dengan cermat, ia mengetahui bahwa gadis itu sedang salah tingkah dan hal itu membuatnya tampak terlihat lebih manis.
   “Tidak, aku tidak apa-apa hanya saja kakiku sedikit kesemutan hehehe”. Ghea menggoyangkan tangannya kemudian mulai berpura-pura memijit kakinya yang jelas tidak sedang kesemutan.
   “Baiklah, bisa aku tahu no ponselmu??” Ghea berdiri mematung sambil menyelipkan kedua tangannya ke saku sweater. Ya satu lagi miracle yang selama ini hanya ada dalam mimpi dan bayangannya.
      JJJ

BAB 4

 Pria itu berdiri memandang kearah luar jendela yang kini mulai tampak kabur ditutupi salju. Ia kini merasa gelisah sekaligus hawatir, namun entah mengapa ia tidak bisa menunjukkan rasa kekhawatirannya pada gadis yang kini tengah terbaring di ranjang tepat dibelakang ia berdiri. Ia berusaha mencari kekuatan untuk menghadapi kenyataan pahit bahwa ia akan kehilangan orang yang amat dikasihinya.
   “Teddy, kau kah itu??” Suara gadis itu membuyarkan lamunannya, ia berbalik menghampiri kekasihnya. “Yah aku disini” ia tersenyum dan duduk disamping tempat tidur gadis cantik berwajah eropa itu. Gadis itu tersenyum bibirnya memang sedikit pucat, namun kecantikannya masih dapat terlihat saat ia tersenyum. Teddy menggenggam jemarinya kemudian mengecup jemari itu dengan hangat.
   “ Dear, aku bahagia kau kesini”
   “Tentu, aku kan melakukan apapun demi kesehatanmu, cepat sembuh” Air muka gadis itu kini berubah, ada sesuatu dari kata-kata pria itu yang membuatnya tidak dapat menahan kesedihan. Ia tidak bisa mengamini doa kekasihnya itu, ia tidak akan bisa sembuh. Setelah vonis dokter mengenai kanker otaknya yang mencapai stadium akhir. Kini ia hanya bisa pasrah, menjalani berbagai cemo terapi yang menyakitkan, demi menunda hari kematiannya.
   “Jangan menangis dear, kau pasti segera sembuh aku yakin. Tuhan akan memberikan keajaiban” Ucap pria itu hangat, ia memeluk kekasih yang amat dicintainya itu dengan hati yang amat pedih. Ia tahu bahwa cepat atau lambat ia akan kehilangan orang yang paling dikasihinya tersebut, namun disisi lain ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa keajaiban itu ada. Entah bagaimana tuhan akan berlaku pada dirinya, bagaimana bentuk keajaiban itu. Bisa saja berupa kekuatan untuk menerima kenyataan, atau keajaiban keabadian cinta mereka.
      JJJ

      Ghea baru saja akan mengehentikan sebuah taxi berwarna hitam ketika tiba-tiba sebuah mobil berwarna kelabu berhenti didepannya. Ia tidak bisa mengenali siempunya mobil, ia hanya terdiam dengan mengangkat sebelas alisnya. Sampai kaca mobil terbuka, dan Teddy tersenyum dari dalam mobil.
   “Dari mana??” Tanya pria itu dengan menggunakan bahasa Ibu Ghea.
   “Ahh,,aku baru saja menghadiri undangan seorang teman, kau??”
   “Menuju suatu tempat, butuh tumpangan?? Sepertinya kita searah” Ghea membulatkan kedua bola matanya, dan tersenyum kecil. “Jika kau tidak keberatan”. Dan sekejap pintu mobil terbuka dari dalam, ia mengambil posisi duduk disamping pria itu.
Ada sesuatu di dalam hatinya yang kini membuatnya ingin tersenyum, bahkan ingin selalu tersenyum. Namun jika ia menuruti hasratnya tersebut pasti Teddy akan bertanya apa yang membuatnya tersenyum,  atau bahkan pria itu akan menganggapnya gila. Jadi dia hanya bisa menahan rasa berbunga-bunga yang timbul saat ia bertemu pria ini.
   “Kau turun dimana??” Pertanyaan pria itu sontak membangunkan Ghea dari lamunannya, ia masih belum sepenuhnya sadar dengan pertanyaan tersebut dan hanya menanggapi dengan gumaman “Hmm??”.
   “Kau mau turun dimana adik Ghea??” Ujar pria disampingnya tersebut dengan nada sedikit menggoda. Menyadari bahwa ia hampir sampai dari tempat tujuannya, ia menunjuk belokan depan untuk berhenti. “Aku turun disitu saja, aku harus membeli sesuatu”.
Tanpa dikomando ulang teddy membelokkan kemudi menuju jalanan depan toko perlengkapan menjahit, dan menghentikan mobilnya disana. “Thank’s yah”. Menanggapi hal tersebut teddy hanya tersenyum hangat dan mengangguk. “Senang bisa..” Ghea berujar sangat lirih mungkin pria ini tidak mendengar apa yang akan diucapkan ghea hingga ia beranjak turun dari mobil. Tersenyum dan mengantar mobil pria tersebut dengan tatapan lembut yang berlalu makin jauh “Senang bisa bertemu denganmu lagi”.
      JJJ

   Tuhan menciptakan perjumpaan dan tentu akan disusul dengan perpisaahan. Apa yang ada di dunia ini kelak tak akan pernah memimiliki sifat abadi. Hanya cinta yang abadi, walaupun yang bercinta mati,walaupun yang memiliki cinta telah pergi. Namun cinta itu akan tetap ada dan kekal.
Steffany berdiri di balik meja dapur sembari menggunakan celemek bermotif bunga-bunga berwarna ungu. Ia kini sedang sibuk melakukan hobby yang amat ia gemari untuk membuat kue kering. Dan yang menjadi costumer pelanggannya tentu saja kekasihnya Teddy. Pria itu akan memberikan penilaian baik akan segala masakan yang ia buat, karena steffany memang memiliki nilai A dalam hal ketrampilan membuat kue.
Gadis itu nampak cantik dengan senyum tersungging di bibirnya, karena satu-satunya hal yang membahagiakan didunia ini baginya adalah membuat kue. Ia bisa bereksplorasi macam-macam dengan bahan-bahan makanan didapur. Terutama jika kue itu dibuat khusus untuk Teddy, ia mencetak adonan dengan bentuk yang bermacam-macam. Kemudian sepenuh hati ia memasukin adonan yang siap panggang itu kedalam oven.
      TEEETTTT!!! TEEEETTT!!
Bell pintu apartmentnya berbunyi, pasti kini teddy sudah berdiri di depan pintu untuk mengunjunginya. Gadis itu berjalan gontai untuk membukakan pintu kekasihnya. Dan tak ayal teddy tengah berdiri didepan pintu membawa bouquet bunga lavender kesukaanya.
   “Morning sweet heart, beautifull flower for beautifull girl”, sapanya dengan senyuman mengembang, dan segera sebuah ciuman hangat mendarat di kening steffany.
   “Smell good hon, thanks”. Gadis itu tersenyum mencium aroma bunga lavender di tangannya kemudian langsung menatanya di pot bunga kaca yang terletak di meja tamu. Saat itulah saat yang sangat tidak ia harapkan terjadi, tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit sekali hingga membuatnya tidak tahan dan melepaskan pot kaca berisi bunga lavender ke lantai. Ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi kecuali rasa sakit yang amat sangat yang membuatnya lebih memilih mati daripada harus meraskan penderitaan tersebut.
Teddy yang panik melihat kekasihnya kesakitan, keluar meminta bantuan pada tetangga kamar apartment Steffany. Beberapa tetangga datang membantunya membopong tubuh gadis itu menuju mobil teddy yang terparkir di lantai bawah. Dan sebagian mengamankan ruang apartment termasuk mematikan kompor dan oven di dapur.
      JJJ

   Hari ini Ghea akan mengantar tante Ana mengunjungi salah satu sahabatnya dirumah sakit The Royal London Hospital didaerah Whitechapel. Ia dan tante Ana sudah siap membawakan Beberapa kotak Ice Cream untuk teman tante ana yang baru saja menjalani oprasi amandel. Ghea tampak manis dengan Sweater Hello Kitty berwarna Pink dipadu dengan celana jins berwarna kelabu serta tak lupa syal rajutan berwarna senada dengan celananya membalut leher Ghea.
Ia dan tante ana menuju rumah sakit diantar oleh sahabtnya yang paling setia siapa lagi kalau bukan Charlie. Melihat Sahabatnya yang terlihat Cantik dengan pipi putihnya yang tampak kemerhan. Membuat ia merasa gemas, namun ia hanya bisa tersenyum melihat tingkah gadis bertubuh mungil itu yang tampak gesit saat berjalan dengan tantenya.
   “Pinky Girl??” Celoteh Charlie yang Sontak membuat Ghea mengernyitkan kening, “Ada apa? Aku tidak pantas mengenakan warna ini??” Ghea yang duduk di samping charlie menggerutu sambil memperhatikan pakainnya, apakah dia salah kostum atau tidak untuk menjenguk orang sakit.
   “No..kamu manis menggunakan itu, aku serius loh”.”sudahlah Ghea tante bilang apa, baju yang tante pilihkan untukmu itu pasti cocok dan bagus, kapan kamu bisa mempercayai tantemu ini”. Tante Ana menimpali yang tiba-tiba muncul dari arah kursi tengah mobil VW milik Charlie. Ghea hanya mengangguk sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, suatau kebiasaan Ghea sejak kecil jika ia merasa tidak nyaman.
Bau obat-obatan menusuk indra penciumannya ketika ia memasuki sebuah banguanan bergaya eropa dengan dinding bercat putih bersih. Kini mereka tengah berada di lobby rumah sakit menanti tante ana yang sedang mengkonfirmasi ruangan kamar tempat temannya dirawat. Hingga mereka mengikuti langkah tante Ana menuju sebuah kamar yang berukuran medium dilantai dua. Ia memasuki ruangan tersebut tentu saja tetap ditemani oleh charlie yang mengekor dibelakangnya.
   “Dilihat dari wajahnya, teman tante ana sepertinya baik-baik saja” Bisiknya pada charlie usai menarik-narik lengan cowok itu agar sedikit membungkuk. Charlie hanya mengendikkan bahu sambil mengerutkan dahi. Teman tante Ana yang ternyata bernama Claudia ini nampak sehat bugar dengan make up sempurna yang menghiasi wajahnya, tak lupa warna rambutnya yang ungu terlihat sangat mencolok. Namun mereka akui bahwa Tante-tante ini tampak terlihat cantik walaupun dengan gayanya yang sedikit freak.
Mendengarkan Tantenya mengobrol panjang lebar dengan pembahasan yang mereka tidak mengerti membuat Ghea dan charlie merasa bosan.
   “Tante aku ke Toilet dulu yah”. Ujar Ghea sambil menunjuk pintu keluar kamar.
   “Tentu Dear, jangan sampai aku harus memasang popok bayi untukmu kan??” Ujar tante Ana sambil menggoyangkan tangannya.
Ghea berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan di pojok rumah sakit yang terdapat sign system arah toilet. Ia berjalan tergesa-gesa hingga tanpa sadar tubuhnya limbung dan hampir saja terjatuh  saat menabrak tubuh seseorang. Ia tidak bisa berfikikir apa – apa saat seseorang yang ia tabrak memegangi dan menahan tubuh mungilnya agar tidak terjatuh.
   “Sorry..sorry, aku tidak...” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya ketika orang itu menyapa gadis bertubuh mungil itu.
   “kau?” Ujar Teddy sambil mengangkat alis.
      JJJ

BAB 3

 “Hemm apa hari ini ultahmu?? Kalo iya aku ucapkan selamat yah??” Ujar Ghea ketika mereka sudah berada diperjalanan pulang. Teddy mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum “Tidak, aku tidak ulang tahun dan aku tidak merayakan apapun”.
   “eh, terimakasih entah apa yang kau fikirkan tapi malam ini sangat spesial bagiku, dan makanannya juga enak”. Gadis mungil itu berbicara sambil menunduk, tidak tahu bahwa pria disampingnya terkejut mendengar perkataan gadis disampingnya yang kini terlihat manis dengan ujung hidungnya yang kemerahan karena cuaca dingin. Teddy memandang gadis disampingnya lekat, gadis itu manis, lugu dan ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Dan entah kenapa tadi terbesit di otaknya untuk mengajak gadis yang baru dikenalnya ini  makan malam. Tapi sesuatu itu seolah memberinya flirting, agar meluruskan niatnya dinner dengan Ghea direstaurant mewah itu.
   “Sepertinya aku membuatmu kedinginan”. Ujar Teddy saat memperhatikan uap yang mengepul keluar bersamaan dengan nafas gadis itu.
   “Ah.. heheh sepertinya begitu”. Ghea melilitkan syal dileher yang menutupi telinganya, dan menggosok-gosok telapak tangannya. Ia merasa kikuk karena baru saja mengoceh yang tidak-tidak, pasti kini Teddy berpikiran bahwa ia cewek aneh. Mungkin pria ini memang baik, hanya dia saja yang merasa berlebihan. Dan sepertinya Teddy sedang memandanginya saat ini, mungkin karena ia merasa dirinya aneh.
   “Kau pulang dengan Taxi yah, ini sudah malam. Aku tidak bisa membayangkan kalo kamu pulang dengan kereta sendirian”. Ujar Teddy sambil menuntun gadis itu menuju mobil VW berwarna hitam yang sudah berhenti dihadapan mereka.
   “Terima kasih yah” Ucap Ghea untuk kesekian kali.
   “Hemm sudah berapa kali kau berterima kasih?? Ayo masuk daripada nanti kau berubah jadi manequin es disini”. What?? Manequin? Itukan boneka yang cantik, apa ia juga menganggap dirinya secantik itu. Kini pipinya sudah mulai bersemu lagi, berkali-kali pria itu berhasil membuat jantungnya berdesir. Dan lihat, kini senyum cowok ini manis sekali. Teddy memang manis kulitnya sawo mentah dan rambutnya hitam legam, ia pernah bilang kalo sebenarnya ia warga indonesia asli. Ia kesini untuk bekerja dan dia tinggal sendiri di london. Kedua orangtuanya asli Jawa Timur, tepatnya di surabaya. Ia akan kembali keindonesia saat kontrak kerjanya selesai, dan itu tinggal beberapa bulan lagi. Sedangkan Ghea masih butuh 4 tahun lagi untuk menyelesaikan study ekonominy di City University London.
   “Hati-Hati Ghea, senang bersamamu hari ini” Ujar Teddy di balik jendela sambil melambaikan tangan ke arah Ghea saat mobil taxi sudah melaju meninggalkan Pria itu. Ghea tersenyum hampir tertawa, ia tidak bisa menahan rasa bahagia yang meletup-letup di hatinya. Ia mencubit lengannya berusaha meyakinkan bahwa ia tidak sedang bermimpi, yaa memang sakit karena ini nyata, ini bukan mimpi.
      JJJ

      154 Brownfield Street, London, England, Inggris
Terdengar suara obrolan di lantai bawah, suaranya terdengar seperti suara Charlie. Untuk apa pagi – pagi dia kesini? Pikir Ghea. Yang tetap membuatnya tidak beranjak dari tempat tidur, Musim dingin membuatnya malas untuk keluar rumah. Apalagi hari libur seperti ini, lebih baik dia menghabiskan waktu seharian di dalam kamar untuk tidur, atau menonton tv. Ia disini tinggal bersama Tantenya yang merupakan Adik kandung Ibunya “Tante Ana”. Tante Ana menikah dengan rekan kerjanya yang merupakan warga asli inggris dan mereka bertemu saat tante Ana harus menyelesaikan tugas kerjanya di London. Mereka kemudian menikah, dan tante Ana memutuskan untuk ikut suaminya tinggal di London dan mengganti kewarganegaraan Inggris. Bukan masalah sih Pikir Ghea, dengan begitu ia tidak sulit mencari tempat tinggal saat ia harus sekolah disini. Dan mama tidak akan mengijinkan ia kuliah disini jika bukan karena Tante Ana juga tinggal disini.
   “Ghea!! Come charlie’s home, he want to meet you!!” Teriak suara tante Ana akhirnya membuatnya beranjak.      “Ya ya, aku turun!!” Dengan malas ia mengkrubuti tubuhnya dengan selimut tebal kemudian turun menuju ruang tengah. Ia melihat cowok itu sedang membaca majalah otomotif milik Stenly Putra tante Ana yang memiliki hobby yang sama dengan Charlie.
   “Hmm nice with that blanket” Ujar Charlie mencibir saat melihat Ghea yang turun dengan rambut awut-awutan dibungkus selimut.
   “Udaranya dingin, aku kemarin pulang malam jadi sedikit flue”.
   “ya aku dengar dari tantemu, dari mana saja??”
   “Kau tahu?? Teddy pria yang sering aku ceritakan padamu itu, dia mengajakku Dinner tadi malam. Menyenangkan sekali, awalnya memang tidak menyenangkan karena aku hampir kecopetan tapi dia menolongku dan malah mengajakku makan, miracle bukan??” Ghea menceracau panjang lebar yang membuat cowok disampingnya kini menurunkan majalah di tangannya dan mengangkat sebelah alis. “Mengajakmu makan??”.
   “Iyaa, di restaurant apa sih aku lupa namanya di daerah hemmm Canary...”
   “Canary Wharf?” Tebak Charlie yang kini mulai memperhatikan Cewek disampingnya ini bercerita.
   “yaa yaa disana, tempatnya romantis sekali. Jendela kacanya Besar trus ada hiburan musicnya”.
   “Bukannya kalian baru kenal?? Kau jangan terlalu percaya, jaga dirimu”. Charlie kembali memusatkan perhatiannya pada majalah yang tadi ia letakkan di atas meja.
   “Setidaknya aku jadi tahu tempat lain di London gara-gara dia”. Cowok disampingnya itu mengigit bibir dan meliriknya, namun Ghea tidak menyadari hal itu. “Baiklah, ayo kau ganti baju dulu”.
   “kemana??”
   “Kita jalan-jalan, bantu aku membeli hiasan pohon natal” Ghea menjentikkan jarinya, ia tersenyum sambil membuka selimut yang membungkus tubuhnya. Ia senang membantu sahabatnya ini mempersiapkan natal, karena saat itu Ibu charlie akan membuat kue serta makanan yang enak-enak. Jadi Ghea senang saat membantu menata kue di toples atau mencicipi kue kering yang berbentuk boneka salju buatan ibu charlie.
Ghea berlari menuju kamarnya dan selang beberapa menit keluar dengan jaket kulit berwarna coklat tua yang panjangnya selutut, dengan sepatu boot bulu Serta tidak lupa Topi wol dan syal warna putih tebal melilit dilehernya. “Ayo kita berangkat!” Ucapnya girang usai mencium tangan tante Ana.
      JJJ

      Charlie membenarkan letak kacamatanya sembari mengelilingkan pandangannya pada benda benda bernuansa natal di sekitarnya. Tadi sepertinya sahabatnya berada didekatnya, entah mungkin karena kebiasaan Ghea yang selalu menghilang, walaupun akhirnya kembali. Matanya menangkap sebuah benda berkilau berwarna jernih berbentuk bintang, ia hendak mengamati benda itu ketika tiba-tiba perhatiannya tertuju pada keributan di balik rak tempat ia berdiri. Ia melihat sosok Ghea disana, ada apa lagi pikirnya. Jangan-jangan ia menjadi korban kejahatan lagi, tubuhnya yang mungil hanya sekitar 1,5 meter membuat gadis itu rentan menjadi korban kejahatan.
   Charlie menghampiri sahabatnya itu “ Ada apa?” Ujar charlie sambil memicingkan matanya memastikan sahabatnya itu baik-baik saja. “ kau baik-baik saja?”. Ghea mengangguk, pandangannya mengarah pada gadis cantik berwajah eropa disamping Charlie. “ Kau baik-baik saja nona?? Apa perlu aku antar ke rumah sakit??” kata ghea berusaha memastikan gadis itu baik-baik saja.
   “Tidak usah, aku baik-baik saja terima kasih”. Gadis itu tampak pucat, bibirnya terlihat seperti tanpa warna dan berkeringat, ghea menggelengkan kepala dan segera merapikan belanjaan wanita itu.
   “tida-tidak, kau tidak baik-baik saja, charlie antar aku ke rumah sakit. Nona ini pasti sedang sakit”. Ia mencoba menggendong belanjaan wanita eropa itu dengan tubuh mungilnya dan hampir limbung. Untungnya charlie segera sigap menahannya. “ Ghea perhatikan ukuran tubuhmu, sini biar aku saja yang bawa” Ujar charlie sedikit kesal melihat tingkah temannya itu.
Tanpa perlawanan wanita eropa yang tampak sedang tidak dalam kondisi baik itupun menurut untuk pergi ke rumah sakit dengan Ghea menggunakan taxi. Ghea memandang wanita disampingnya yang tampak tidak sehat dengan wajah kasihan “Kalau kau sakit kenapa pergi sendirian?” ujarnya. Perempuan yang tampak masih muda namun lebih tinggi darinya itu hanya tersenyum “Aku memang perlu pergi sendirian, terlalu banyak orang yang sudah aku bikin repot termasuk kau”.
   “Ohh tentu saja tidak, iyakan charlie” Ghea menyenggol lengan sahabatnya itu meminta persetujuan. Charlie meringis sambil merasa bawaan yang ia bawa kini makin berat saja. “Kami baik hati dan suka membantu, jadi kau tenang saja” Timpal charlie kemudian. Gadis itu tampak tersenyum walaupun lebih terlihat seperti menangis karena bibirnya sedikit pucat.
Mereka tiba di rumah sakit di daerah greenwich, ghea dan charlie menunggu di ruang tunggu ketika perempuan tadi mendapat pemeriksaan oleh dokter. “ kau ini, untuk apa membawa orang asing kerumah sakit segala?? Harusnya tadi kau membantuku mencari pernak-pernik natal”.
   “Ayolah charlie sayang, kau tidak akan membiarkan dia pingsan dan terkapar ditoko itu kan??”
   “iyaa tapi” charlie hendak protes lebih lanjut hingga Ghea menimpali “ Setelah ini aku akan membantumu sepuasnya yahh??” Ghea tersenyum sangat manis, hingga tanpa sadar membuat cowok disampingnya merasakan sesuatu yang aneh. Charlie ingin melihat senyum itu terus, ia merasa ada sesuatu yang membuatnya ingin melihat gadis itu tersenyum lagi. “Baiklah” Charlie menanggapinya dengan pasrah.
   JJJ

   “bagaimana??” tanya ghea ketika melihat gadis tadi keluar dari ruang pemeriksaan.
   “Aku tidak boleh keluar sendirian, penyakitku kumat lagi”.
   “tuh kan aku tadi bilang apa” Percakapan mereka terhenti ketika ponsel gadis itu berbunyi, sepertinya ia mendapat telpon dari seseorang, ia berpamitan menjauh pada Ghea dan charlie untuk mengangkat telpon.
   “Yaa..aku .. sedang ditempat pernak-pernik, ya tentu..tidak, aku tidak apa-apa. Yaa aku akan segera pulang yaa”. Gadis itu menutup telponnya “Terima kasih, ehhm siapa namamu?” Ujar gadis itu pada Ghea.
   “Tentu saja, aku Ghea dan kau”. Ia menjabat tangan gadis itu “ Aku Steffany, dan kau siapa?” tanya gadis itu pada cowok yang sedari tadi mengikuti Ghea “Aku charlie” Jawab charlie simple.
   “Yaa kalian baik sekali, terima kasih banyak. Dan sepertinya aku harus pergi” Gadis itu sedikit mengangkat tangannya yang memegang ponsel. Seketika ghea menyadari bahwa ada yang menghawatirkan perempuan itu, ghea mengangguk. Perempuan itu pergi menuju taxi yang sepertinya sudah dipesan sebelumnya, gadis yang cantik tapi tidak membuat Charlie berkutik untuk beralih dari gadis mungil disampingnya kini. Dan Ghea hanya tinggal menepati janjinya untuk membantu charlie mempersiapkan acara natal dirumahnya.
      JJJ

BAB 2

 “Charlie, kau benar-benar tidak bisa pulang denganku hari ini??” Tanya Ghea pada sahabatnya yang setelah kejadian tempo hari di kereta api membuat Charlie senantiasa menemani Ghea pulang demi keamanan gadis manis di sampingnya itu. Charlie menghela nafas memegang pundak ghea dan menatap kedua bola matanya yang bulat itu lekat-lekat.
   “Sorry, untuk hari ini saja aku tidak bisa Ghea, mengertilah”. Ghea menatap pria didepannya itu dengan mulut dimanyunkan, matanya makin membulat bibirnya di gembungkan dan mendongak ke atas karena temannya itu lebih tinggi daripada dirinya.
   “ Baiklah begini saja, kau hanya perlu mencari kereta yang ramai agar bila ada yang macam-macam padamu maka kau bisa teriak sekencang-kencangnya”. Jelas pria yang semenjak Ghea pindah ke London sudah bersedia menjadi sahabat terbaik bagi Ghea. Ghea memutar bola matanya, dan mendengus pasrah. Poni rambutnya jadi membelah karena nafasnya.
   “Okee aku harap aku tidak celaka lagi”. Ujarnya pasrah.
   “Jangan berkata begitu” Ujar charlie berlalu sambil tak lupa mencubit pipi Ghea yang sedikit Chubby, tidak seperti wanita eropa pada umumnya yang memiliki dagu tirus. Ghea berwajah lancip namun pipinya yang terlihat bersemu pink itu sedikit berisi, matanya bulat karena memang ia keturunan orang indonesia asli. Namun kulitnya bersih dan putih, mungkin karena ibunyapun berkulit putih. Sedangkan sahabatnya bernama Charlie adalah seorang pria Warga asli inggris, dengan rambutnya yang kecoklatan serta kedua bola matanya yang berwarna hijau kelabu. Dihiasi dengan kacamata minus dua yang bertengger diatas hidungnya yang mancung lurus.
Dan seperti apa yang dikatakan charlie tadi, kini Ghea harus menanti kereta yang sedikit penuh agar dia bisa merasa aman saat pulang kerja. Matanya menelusur mencari sosok yang mungkin dikenalinya agar bisa diajak ngobrol saat di kereta, namun sia-sia tak seorangpun yang ia kenal. Bel tanda kereta akan berangkat sudah meraung-raung, ghea mencari tempat duduk yang menurutnya aman untuk diduduki. Hingga ia menanggkap satu bangku kosong yang disekelilingnya dihuni oleh ibu-ibu. Dan sepertinya mereka orang baik dan tak akan mengganggunya.
   “Permisi, boleh saya duduk di sini” tegurnya pada gerombolan ibu-ibu yang sedang berbincang dengan temanya. Ibu-ibu itu hanya menanggapi dengan senyuman dan berkata “sure”. Ghea memperhatikan ibu – ibu di sampingnya sekelebat, tidak ada yang mencurigakan, sepertinya semuanya baik – baik saja.
Ia menyandarkan punggungnya yang terasa berat di sandaran bangku kereta, ia meletakkan tas tangan dipangkuannya sekenanya. Matanya terpejam saking lelahnya, hingga ia terlena dan berkelana di dunia mimpi. Saat ia terbangun dengan suara seorang pria yang sepertinya tidak asing, ia membuka mata dan mendapati tas tangannya berada di tangan pria yang berdiri di depannya.
   “Apa yang kau lakukan!! Kembalikan! Kembalikan” Ia dengan bebas memukuli pria di depannya dan merebut tasnya dari tangan pria itu, si pria hanya menghindari pukulan ghea dengan kedua tangannya. “Hei!! Hentikan ini aku!!”
   “Kau pencuri dasar pencuri!!” ia tetap berteriak tanpa menyadari siapa pria itu dan ibu-ibu disampingnya sudah tidak ada.
   “Aku Teddy!! Hei hentikan!!” Kedua mata Ghea membulat, berusaha memperhatikan pria didepannya lekat-lekat. Hingga hujan pukulan yang diterima pria itu terhenti. “ Hah? Apa yang kau lakukan?”. Ia masih kebingungan dan menunjuk tas tangan miliknya.
   “Ibu-ibu yang tadi duduk dipinggirmu, dia mau mencuri tas tanganmu. Kau malah enak tidur pulas, untung aku memergokinya. Kalau tidak entah, mungkin kau akan ditendang keluar saat menyadari kau tidak membayar karcis karna kehilangan tas tanganmu”. Jelas Teddy panjang lebar menggunakan bahasa indonesia. Ghea tersenyum malu, pipinya pias kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. “ Kau menolongku berkali – kali, terima kasih banget yah” Ujar Ghea yang juga menggunakan bahasa Indonesia.
   “hemmm gila, memangnya kamu ada apanya sih, sampai bikin para penjahat mendekat ke kamu”. Ujar Tedy sambil merapikan pakaian dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya kemudian duduk di samping gadis mungil disampingnya itu.
   “Aku berfikir karena aku kecil” Jawab Ghea sambil memanyunkan bibirnya. Teddy memandang cewek disampingnya dengan senyuman tersungging yang tidak diketahui oleh Ghea. Pria itu memicingkan kedua matanya dan meletakkan tangan di atas kepala Ghea seolah mengukur tinggi tubuh Ghea.
   “Kecil?? Uhmm sepertinya tidak”. Ujarnya santai “Iyaa kan aku sedang duduk, makanya tinggi kita sama”. Ghea menjawab dengan memasang wajah bosan yang kontan membuat pria disampingnya tertawa.
      JJJ

      Mereka berjalan beriringan berdua ditengah cuaca dingin kota London, mereka memutuskan untuk turun di daerah Canary Wharf. Teddy bilang ia ingin mentraktir Ghea makan malam di Boisdale of Canary Wharf Restaurant, disana merupakan tempat dinner yang bisa dibilang romantis dengan service yang amat baik. Namun Ghea sempat bingung karena tidak tahu dimana tempatnya. Karena selama ia tinggal di london yang ia hafal rutenya hanyalah arah rumahnya hingga ke Tempat kerja, dan daerah menuju kampusnya. Kini ia hanya menurut dengan Teddy karena sepertinya pria disampingnya ini lebih tau seluk beluk kota London daripada dirinya. Lagi pula tadi Teddy bilang katanya dia baru saja gajian, karena melihat wajah Ghea yang kelihatan kasihan sekali, maka ia berbaik hati untuk mentraktirnya makan malam.
   “Wow!! Kau serius mau mentraktirku di tempat seperti ini??” Mata Ghea membulat ketika tiba di depan sebuah Gedung yang tampak mewah. Dengan jendela kaca besar yang memperlihatakan ruangan di dalamnya dan tertata rapi. Kursi dan meja kayu ditata perblok empat orang menghadap keluar. Dengan latar belakang meja bar yang dindingnya terbuat dari keramik berwarna coklat kayu. “Tentu saja, kenapa??” Ucap Teddy mengagetkannya. “Sudah ayo masuk, biar aku semua yang bayar tenang saja”.
     Teddy menarik lengan gadis itu dan menggandengnya, Ghea makin tidak percaya diantara rasa terkejutnya kini ia merasa aneh, bahagia sekaligus kikuk. Ia memasuki restaurant sembari memandangi tangan yang menggandengnya. Teddy masih tetap menggenggam jemari Ghea yang terasa dingin karena selama dijalan tadi ia lupa memakai sarung tangan.
   “Sepertinya disana” Ujar pria itu menunjuk bangku kosong yang terletak menghadap keluar. Romantis sekejap itu yang terpikir oleh Ghea saat melihat lokasinya. Ia duduk berhadapan dengan Teddy, dengan posisi melihat pemandangan Luar dari kaca jendela besar disamping mereka.
   “Kau suka Ghea?”
   “Hmm tentu saja, aku tidak pernah ke tempat semewah ini, lux n romantic”.
   “Yaa semua wanita suka dengan hal-hal romantis”. Usai Teddy berkata demikian tiba-tiba
seorang pria berkemeja putih dihiasi dasi kupu-kupu dilehernya, dipadu dengan celana bahan hitam menghampiri mereka dengan membawakan buku menu dan meletakkanya di atas meja. Sambil mengoceh menawari mereka makanan serta minuman yang spesial di restaurant ini. Ghea mengerutkan kening sambil melihat menu yang ada didalam daftar, ia tidak mengerti makanan apa saja ini. Ia tidak mau makan babi, memang tidak boleh karena dia seorang muslim dan sepertinya minumannya Wine, Arrggghhh dia tidak boleh itu semua ia bingung dan berbisik ke arah Teddy.
                “ Sepertinya semua makanan ini tidak boleh aku makan hehe” Ujarnya menggunakan bahasa indonesia sambil menutupi mulut dari arah pelayan yang berdiri di sampingnya.
                “Oh heheh tenang, aku tau menu spesial disini ada steak sapi kok, enak banget sausnya dan dagingnya juga empuk kita pesan itu saja yah?” tawarnya, “Baiklah” Jawab Ghea.
Akhirnya mereka memesan Steak sapi dengan minuman Cola, tidak lupa makanan pembuka kesukaan Ghea cocolate Ice cream. Suasana makin romantis ketika alunan music instrumental Blues mengalun merdu menjadi Backsound obrolan mereka. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang paling menyenangkan dalam hidup Ghea, sesuatu yangmiracle. Semua hanya ada dalam bayangan dan angannya saat mengagumi sosok pria dihadapannya selama ini, dan kini semuanya jadi nyata. Entah apa yang direncanakan tuhan.
      JJJ

BAB 1

BAB 1
   “Ya ya aku sudah tau, yaa nanti akan aku bawakan. Yaa tentu saja”. Suara pria itu menarik perhatian Ghea. Ia melongo memperhatikan pria berkemeja hitam didepan toko tempat ia bekerja yang sedang sibuk dengan ponsel di telinganya. Pria itu tidak menyadari, bahkan tidak perduli dengan kehadirannya yang tiap hari memperhatikan pria tersebut. Ghea merengut ketika usahanya untuk mencuri perhatian pria tersebut dengan berpura-pura membuang sampah keluar toko ternyata tidak membuahkan hasil. Pria tersebut justru menutup telpon dan langsung masuk ke kantornya yang berada di sebrang toko tempat Ghea bekerja.
   “Kenapa cemberut??” Ujar salah seorang karyawan lain, teman kerja Ghea ketika ghea kembali dari luar.
   “Tidak apa-apa”. Jawabnya singkat sembari bertopang dagu di meja kasir. Charlie adalah teman kerja sekaligus teman satu kampus Ghea di City University London, ia sangat hafal dengan tingkah laku maupun apa saja yang bisa membuat gadis itu galau. Termasuk pria sebrang toko yang sering di ceritakannya pada Charlie.
   “Pria itu lagi??” Ujar Charlie singkat sembari menata Tumpukan Roti di atas Baki ke dalam lemari kaca disebelah tempat Ghea duduk. Ia mengangguk dengan malas dan makin memanyunkan bibirnya.
   “Kau selalu tahu diriku, semenjak aku bekerja disini sepertinya aku jarang melihatnya mampir ke toko kita, bahkan bisa di bilang tidak pernah”.
   “Kau saja yang tidak beruntung, kemarin dia kemari membeli Kue tart, entah untuk siapa dan aku tidak terlalu antusias mengajaknya ngobrol” Jelas Charlie sembari berjalan menuju dapur untuk mengembalikan baki. Mata Ghea membulat dan beranjak dari tempat duduknya mengikuti langkah charlie dengan mata berbunga-bunga.
   “Kapan?? Kenapa kau tidak memanggilku??”
   “Apa aku harus berteriak-teriak memanggil namamu saat dia ada di depanku?? Lagi pula saat itu kau sedang sibuk sendiri di dapur”. Ghea menghembuskan nafas panjang dan kembali ke meja kasir. Matanya menerawang ke arah pintu kaca yang tembus pandang dan jelas memperlihatkan kantor keuangan didepan toko itu. Disana si pria cool itu bekerja, dan Ghea tertarik untuk mengenalnya. Bagaimana caranya ia tidak tahu, yang jelas ia menyukai pria itu walau Ghea hanya bisa memandanginya dari balik pintu kaca tokonya.

                                                                      
      Ghea merapatkan jaket bulunya, sepertinya iklim diluar kini lebih dingin dari biasanya. Karena sekarang memang memasuki musim dingin. Rambutnya yang hitam panjang di biarkan tergerai menutupi kedua telinganya, ia berjalan meninggalkan Toko saat jam kerjanya sudah selesai. Tak lupa matanya menelusur ke arah kantor keuangan di depan, ia melihat suasananya terlihat sepi. Mungkin pria itu sudah pulang, ia melongok ke arah pelataran parkir di depan kantor. Mobil hitam yang biasa terpakir disana juga tidak ada, mungkin itu mobilnya.
Ia menghembuskan nafas dan berfikir pasrah, ia hanya bisa mengagumi pria yang tampak sangat maskulin dengan baju kemejanya. Serta kulit sawo mentah yang tampaknya seperti keturunan asia. Terutama rambut legamnya yang sama dengan dirinya. Namun ia tidak bisa bertegur sapa dengan pria itu, ia malu. Ia takut usahanya sia-sia dan ia akan menjadi gadis bodoh saat ia dicuekin.
Ia tiba di salah satu stasiun bawah tanah Dockland Light Railway. Usai mengantongi tiket ia menyelinap ke dalam kereta api bawah tanah berwarna merah. Ia memilih untuk duduk di bangku yang masih kosong, sepertinya terlihat nyaman duduk sendirian di situ sambil membaca buku. Ia memangku tas tangannya dan mengeluarkan novel klasik kesukaanya. Hingga tiba-tiba suara berat seorang pria mengagetkannya.
   “Bisa kami duduk di sini??” Ujar Pria berperawakan eropa dengan tubuh yang besar dan sedikit tampang menakutkan. Ia mengangkat kepala melihat tiga pria yang sedang menunggu persetujuannya. Hatinya jadi gelisah, namun ia berusaha menyembunyikan pikiran buruknya yang sudah melantur kemana-mana.
   “Hmm Tentu, silahkan saja” Ucapnya mempersilahkan sambil menggeser letak duduknya lebih kedalam. Ia kembali mengalihkan perhatian pada buku bersampul coklat di tangannya, sepertinya ketiga pria sangar di sekelilingnya sedang memperhatikannya lekat-lekat. Ia berusaha bersikap setenang mungkin untuk menyembunyikan kegelisahan dihatinya, ia ingin pergi untuk mencari tempat duduk lain. Namun ia tidak tahu harus duduk dimana, ia juga merasa tidak enak jika tiba-tiba harus pergi. Sikap yang diajarkan orangtuanya di indonesia masih melekat hingga sekarang.
Nafasnya terasa sesak, pikirannya melayang dan makin hawatir. Dua pasang mata pria di hadapannya masih memandang dengan cermat, entah apa yang diinginkan pria dengan penampilan sangar itu. Ia makin tidak tahan, akhirnya ia mengambil nafas satu kali dan membulatkan tekat untuk berdiri.
   “Permisi”. Ucapnya beranjak sambil tersenyum melewati pria bertato disampingnya, yang justru makin mengagetkan. Pria itu berani mencengkeram tangannya dengan kuat, dan tatapan mata pria itu membuatnya makin risih. Ia mencak-mencak berusaha melarikan diri, dengan sekuat tenaga, namun cengkraman tangan pria itu sangat kuat. Dan kedua pria lain juga berusaha menghalangi jalannya.
   “Mau kemana nona cantik??” Ucap Pria bertindik yang tadi meminta izin untuk duduk di dekatnya.
   “Lepaskan!! Apa mau kalian!!” Ia tidak tahan dan berteriak-teriak, hingga tanpa sadar tiba-tiba tubuhnya terhempas kedekapan seseorang. Ia mengerutkan dahi dan memejamkan mata, sangat jelas ia sedang ketakutan kedua tangannya menggenggam tas tangannya erat-erat.
   “Apa yang kalian lakukan??” Suara itu mengagetkan Ghea, membuatnya melotot dan mendongak keatas. Ia sepertinya mengenali pria itu namun otaknya masih berputar terlalu lama untuk mengingat bahwa pria itu adalah pria pujaannya yang bekerja di depan Toko.
   “Jangan sentuh, atau kalian akan di lempar keluar dari kereta ini” Suara pria itu mengancam yang membuat para pria garang itu hanya melotot dengan pandangan benci dan membiarkan Ghea berlalu. Pria itu dengan sigap memeluknya dan mengantarnya ke tempat duduk lain di dekat pintu gerbong kereta tempat ia duduk. Entah apa yang membuat orang-orang di sekitarnya hanya menoleh dan menggelengkan kepala. Mungkin jika pria tadi tidak menyelamatkannya, entah apa yang akan terjadi padaku, pikirnya. “Kau tidak apa-apa??” Suara itu memecahkan lamunan Ghea ketika ia sudah duduk di samping pria yang menyelamatkannya tadi. Ghea tersenyum kecut memeluk tas tangannya sembari mengangguk. “ Terima kasih, aku tidak tahu kalau kau tidak menolongku tadi mungkin..” ia terlalu ngeri untuk menjelaskannya.
   “Baiklah, yang terpenting kau tidak apa-apa” Ketika pria itu berkata demikian barulah Ghea menyadari bahwa pria itu yang menarik perhatiannya selama ini. Pria berwajah ramah dengan kulit sawo mentah penghuni kantor keuangan depan Toko. Matanya menelusur memperhatikan pria disampingnya itu, ia tidak tahu apa yang harus dirasakannya saat ini, Entahlah.
   “Kau.. namamu siapa??” Ghea melotot dan menunjuk ke arah dirinya saat mendengar pertanyaan pria itu. “A aku, Aku ghea” Ucapnya tersenyum, pria itu melengkungkan bibir dan melanjutkan “ Kau dari indonesia? Wajahmu, kelihatannya kau dari indonesia “.
   “Yaa aku dari indonesia, baru beberapa bulan disini jadi aku masih belum terbiasa dengan lingkungan disini” Pria itu tersenyum simpul kemudian mengangguk-angguk. Kemudian meneruskan perbincangannya dengan bahasa indonesia.
“Aku juga dari indonesia, Namaku Tedy”