“Hemm apa hari ini ultahmu?? Kalo iya aku ucapkan selamat yah??” Ujar Ghea ketika mereka sudah berada diperjalanan pulang. Teddy mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum “Tidak, aku tidak ulang tahun dan aku tidak merayakan apapun”.
“eh, terimakasih entah apa yang kau fikirkan tapi malam ini sangat spesial bagiku, dan makanannya juga enak”. Gadis mungil itu berbicara sambil menunduk, tidak tahu bahwa pria disampingnya terkejut mendengar perkataan gadis disampingnya yang kini terlihat manis dengan ujung hidungnya yang kemerahan karena cuaca dingin. Teddy memandang gadis disampingnya lekat, gadis itu manis, lugu dan ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Dan entah kenapa tadi terbesit di otaknya untuk mengajak gadis yang baru dikenalnya ini makan malam. Tapi sesuatu itu seolah memberinya flirting, agar meluruskan niatnya dinner dengan Ghea direstaurant mewah itu.
“Sepertinya aku membuatmu kedinginan”. Ujar Teddy saat memperhatikan uap yang mengepul keluar bersamaan dengan nafas gadis itu.
“Ah.. heheh sepertinya begitu”. Ghea melilitkan syal dileher yang menutupi telinganya, dan menggosok-gosok telapak tangannya. Ia merasa kikuk karena baru saja mengoceh yang tidak-tidak, pasti kini Teddy berpikiran bahwa ia cewek aneh. Mungkin pria ini memang baik, hanya dia saja yang merasa berlebihan. Dan sepertinya Teddy sedang memandanginya saat ini, mungkin karena ia merasa dirinya aneh.
“Kau pulang dengan Taxi yah, ini sudah malam. Aku tidak bisa membayangkan kalo kamu pulang dengan kereta sendirian”. Ujar Teddy sambil menuntun gadis itu menuju mobil VW berwarna hitam yang sudah berhenti dihadapan mereka.
“Terima kasih yah” Ucap Ghea untuk kesekian kali.
“Hemm sudah berapa kali kau berterima kasih?? Ayo masuk daripada nanti kau berubah jadi manequin es disini”. What?? Manequin? Itukan boneka yang cantik, apa ia juga menganggap dirinya secantik itu. Kini pipinya sudah mulai bersemu lagi, berkali-kali pria itu berhasil membuat jantungnya berdesir. Dan lihat, kini senyum cowok ini manis sekali. Teddy memang manis kulitnya sawo mentah dan rambutnya hitam legam, ia pernah bilang kalo sebenarnya ia warga indonesia asli. Ia kesini untuk bekerja dan dia tinggal sendiri di london. Kedua orangtuanya asli Jawa Timur, tepatnya di surabaya. Ia akan kembali keindonesia saat kontrak kerjanya selesai, dan itu tinggal beberapa bulan lagi. Sedangkan Ghea masih butuh 4 tahun lagi untuk menyelesaikan study ekonominy di City University London.
“Hati-Hati Ghea, senang bersamamu hari ini” Ujar Teddy di balik jendela sambil melambaikan tangan ke arah Ghea saat mobil taxi sudah melaju meninggalkan Pria itu. Ghea tersenyum hampir tertawa, ia tidak bisa menahan rasa bahagia yang meletup-letup di hatinya. Ia mencubit lengannya berusaha meyakinkan bahwa ia tidak sedang bermimpi, yaa memang sakit karena ini nyata, ini bukan mimpi.
JJJ
154 Brownfield Street, London, England, Inggris
Terdengar suara obrolan di lantai bawah, suaranya terdengar seperti suara Charlie. Untuk apa pagi – pagi dia kesini? Pikir Ghea. Yang tetap membuatnya tidak beranjak dari tempat tidur, Musim dingin membuatnya malas untuk keluar rumah. Apalagi hari libur seperti ini, lebih baik dia menghabiskan waktu seharian di dalam kamar untuk tidur, atau menonton tv. Ia disini tinggal bersama Tantenya yang merupakan Adik kandung Ibunya “Tante Ana”. Tante Ana menikah dengan rekan kerjanya yang merupakan warga asli inggris dan mereka bertemu saat tante Ana harus menyelesaikan tugas kerjanya di London. Mereka kemudian menikah, dan tante Ana memutuskan untuk ikut suaminya tinggal di London dan mengganti kewarganegaraan Inggris. Bukan masalah sih Pikir Ghea, dengan begitu ia tidak sulit mencari tempat tinggal saat ia harus sekolah disini. Dan mama tidak akan mengijinkan ia kuliah disini jika bukan karena Tante Ana juga tinggal disini.
“Ghea!! Come charlie’s home, he want to meet you!!” Teriak suara tante Ana akhirnya membuatnya beranjak. “Ya ya, aku turun!!” Dengan malas ia mengkrubuti tubuhnya dengan selimut tebal kemudian turun menuju ruang tengah. Ia melihat cowok itu sedang membaca majalah otomotif milik Stenly Putra tante Ana yang memiliki hobby yang sama dengan Charlie.
“Hmm nice with that blanket” Ujar Charlie mencibir saat melihat Ghea yang turun dengan rambut awut-awutan dibungkus selimut.
“Udaranya dingin, aku kemarin pulang malam jadi sedikit flue”.
“ya aku dengar dari tantemu, dari mana saja??”
“Kau tahu?? Teddy pria yang sering aku ceritakan padamu itu, dia mengajakku Dinner tadi malam. Menyenangkan sekali, awalnya memang tidak menyenangkan karena aku hampir kecopetan tapi dia menolongku dan malah mengajakku makan, miracle bukan??” Ghea menceracau panjang lebar yang membuat cowok disampingnya kini menurunkan majalah di tangannya dan mengangkat sebelah alis. “Mengajakmu makan??”.
“Iyaa, di restaurant apa sih aku lupa namanya di daerah hemmm Canary...”
“Canary Wharf?” Tebak Charlie yang kini mulai memperhatikan Cewek disampingnya ini bercerita.
“yaa yaa disana, tempatnya romantis sekali. Jendela kacanya Besar trus ada hiburan musicnya”.
“Bukannya kalian baru kenal?? Kau jangan terlalu percaya, jaga dirimu”. Charlie kembali memusatkan perhatiannya pada majalah yang tadi ia letakkan di atas meja.
“Setidaknya aku jadi tahu tempat lain di London gara-gara dia”. Cowok disampingnya itu mengigit bibir dan meliriknya, namun Ghea tidak menyadari hal itu. “Baiklah, ayo kau ganti baju dulu”.
“kemana??”
“Kita jalan-jalan, bantu aku membeli hiasan pohon natal” Ghea menjentikkan jarinya, ia tersenyum sambil membuka selimut yang membungkus tubuhnya. Ia senang membantu sahabatnya ini mempersiapkan natal, karena saat itu Ibu charlie akan membuat kue serta makanan yang enak-enak. Jadi Ghea senang saat membantu menata kue di toples atau mencicipi kue kering yang berbentuk boneka salju buatan ibu charlie.
Ghea berlari menuju kamarnya dan selang beberapa menit keluar dengan jaket kulit berwarna coklat tua yang panjangnya selutut, dengan sepatu boot bulu Serta tidak lupa Topi wol dan syal warna putih tebal melilit dilehernya. “Ayo kita berangkat!” Ucapnya girang usai mencium tangan tante Ana.
JJJ
Charlie membenarkan letak kacamatanya sembari mengelilingkan pandangannya pada benda benda bernuansa natal di sekitarnya. Tadi sepertinya sahabatnya berada didekatnya, entah mungkin karena kebiasaan Ghea yang selalu menghilang, walaupun akhirnya kembali. Matanya menangkap sebuah benda berkilau berwarna jernih berbentuk bintang, ia hendak mengamati benda itu ketika tiba-tiba perhatiannya tertuju pada keributan di balik rak tempat ia berdiri. Ia melihat sosok Ghea disana, ada apa lagi pikirnya. Jangan-jangan ia menjadi korban kejahatan lagi, tubuhnya yang mungil hanya sekitar 1,5 meter membuat gadis itu rentan menjadi korban kejahatan.
Charlie menghampiri sahabatnya itu “ Ada apa?” Ujar charlie sambil memicingkan matanya memastikan sahabatnya itu baik-baik saja. “ kau baik-baik saja?”. Ghea mengangguk, pandangannya mengarah pada gadis cantik berwajah eropa disamping Charlie. “ Kau baik-baik saja nona?? Apa perlu aku antar ke rumah sakit??” kata ghea berusaha memastikan gadis itu baik-baik saja.
“Tidak usah, aku baik-baik saja terima kasih”. Gadis itu tampak pucat, bibirnya terlihat seperti tanpa warna dan berkeringat, ghea menggelengkan kepala dan segera merapikan belanjaan wanita itu.
“tida-tidak, kau tidak baik-baik saja, charlie antar aku ke rumah sakit. Nona ini pasti sedang sakit”. Ia mencoba menggendong belanjaan wanita eropa itu dengan tubuh mungilnya dan hampir limbung. Untungnya charlie segera sigap menahannya. “ Ghea perhatikan ukuran tubuhmu, sini biar aku saja yang bawa” Ujar charlie sedikit kesal melihat tingkah temannya itu.
Tanpa perlawanan wanita eropa yang tampak sedang tidak dalam kondisi baik itupun menurut untuk pergi ke rumah sakit dengan Ghea menggunakan taxi. Ghea memandang wanita disampingnya yang tampak tidak sehat dengan wajah kasihan “Kalau kau sakit kenapa pergi sendirian?” ujarnya. Perempuan yang tampak masih muda namun lebih tinggi darinya itu hanya tersenyum “Aku memang perlu pergi sendirian, terlalu banyak orang yang sudah aku bikin repot termasuk kau”.
“Ohh tentu saja tidak, iyakan charlie” Ghea menyenggol lengan sahabatnya itu meminta persetujuan. Charlie meringis sambil merasa bawaan yang ia bawa kini makin berat saja. “Kami baik hati dan suka membantu, jadi kau tenang saja” Timpal charlie kemudian. Gadis itu tampak tersenyum walaupun lebih terlihat seperti menangis karena bibirnya sedikit pucat.
Mereka tiba di rumah sakit di daerah greenwich, ghea dan charlie menunggu di ruang tunggu ketika perempuan tadi mendapat pemeriksaan oleh dokter. “ kau ini, untuk apa membawa orang asing kerumah sakit segala?? Harusnya tadi kau membantuku mencari pernak-pernik natal”.
“Ayolah charlie sayang, kau tidak akan membiarkan dia pingsan dan terkapar ditoko itu kan??”
“iyaa tapi” charlie hendak protes lebih lanjut hingga Ghea menimpali “ Setelah ini aku akan membantumu sepuasnya yahh??” Ghea tersenyum sangat manis, hingga tanpa sadar membuat cowok disampingnya merasakan sesuatu yang aneh. Charlie ingin melihat senyum itu terus, ia merasa ada sesuatu yang membuatnya ingin melihat gadis itu tersenyum lagi. “Baiklah” Charlie menanggapinya dengan pasrah.
JJJ
“bagaimana??” tanya ghea ketika melihat gadis tadi keluar dari ruang pemeriksaan.
“Aku tidak boleh keluar sendirian, penyakitku kumat lagi”.
“tuh kan aku tadi bilang apa” Percakapan mereka terhenti ketika ponsel gadis itu berbunyi, sepertinya ia mendapat telpon dari seseorang, ia berpamitan menjauh pada Ghea dan charlie untuk mengangkat telpon.
“Yaa..aku .. sedang ditempat pernak-pernik, ya tentu..tidak, aku tidak apa-apa. Yaa aku akan segera pulang yaa”. Gadis itu menutup telponnya “Terima kasih, ehhm siapa namamu?” Ujar gadis itu pada Ghea.
“Tentu saja, aku Ghea dan kau”. Ia menjabat tangan gadis itu “ Aku Steffany, dan kau siapa?” tanya gadis itu pada cowok yang sedari tadi mengikuti Ghea “Aku charlie” Jawab charlie simple.
“Yaa kalian baik sekali, terima kasih banyak. Dan sepertinya aku harus pergi” Gadis itu sedikit mengangkat tangannya yang memegang ponsel. Seketika ghea menyadari bahwa ada yang menghawatirkan perempuan itu, ghea mengangguk. Perempuan itu pergi menuju taxi yang sepertinya sudah dipesan sebelumnya, gadis yang cantik tapi tidak membuat Charlie berkutik untuk beralih dari gadis mungil disampingnya kini. Dan Ghea hanya tinggal menepati janjinya untuk membantu charlie mempersiapkan acara natal dirumahnya.
JJJ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar