Senin, 26 Januari 2015

BAB 4

 Pria itu berdiri memandang kearah luar jendela yang kini mulai tampak kabur ditutupi salju. Ia kini merasa gelisah sekaligus hawatir, namun entah mengapa ia tidak bisa menunjukkan rasa kekhawatirannya pada gadis yang kini tengah terbaring di ranjang tepat dibelakang ia berdiri. Ia berusaha mencari kekuatan untuk menghadapi kenyataan pahit bahwa ia akan kehilangan orang yang amat dikasihinya.
   “Teddy, kau kah itu??” Suara gadis itu membuyarkan lamunannya, ia berbalik menghampiri kekasihnya. “Yah aku disini” ia tersenyum dan duduk disamping tempat tidur gadis cantik berwajah eropa itu. Gadis itu tersenyum bibirnya memang sedikit pucat, namun kecantikannya masih dapat terlihat saat ia tersenyum. Teddy menggenggam jemarinya kemudian mengecup jemari itu dengan hangat.
   “ Dear, aku bahagia kau kesini”
   “Tentu, aku kan melakukan apapun demi kesehatanmu, cepat sembuh” Air muka gadis itu kini berubah, ada sesuatu dari kata-kata pria itu yang membuatnya tidak dapat menahan kesedihan. Ia tidak bisa mengamini doa kekasihnya itu, ia tidak akan bisa sembuh. Setelah vonis dokter mengenai kanker otaknya yang mencapai stadium akhir. Kini ia hanya bisa pasrah, menjalani berbagai cemo terapi yang menyakitkan, demi menunda hari kematiannya.
   “Jangan menangis dear, kau pasti segera sembuh aku yakin. Tuhan akan memberikan keajaiban” Ucap pria itu hangat, ia memeluk kekasih yang amat dicintainya itu dengan hati yang amat pedih. Ia tahu bahwa cepat atau lambat ia akan kehilangan orang yang paling dikasihinya tersebut, namun disisi lain ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa keajaiban itu ada. Entah bagaimana tuhan akan berlaku pada dirinya, bagaimana bentuk keajaiban itu. Bisa saja berupa kekuatan untuk menerima kenyataan, atau keajaiban keabadian cinta mereka.
      JJJ

      Ghea baru saja akan mengehentikan sebuah taxi berwarna hitam ketika tiba-tiba sebuah mobil berwarna kelabu berhenti didepannya. Ia tidak bisa mengenali siempunya mobil, ia hanya terdiam dengan mengangkat sebelas alisnya. Sampai kaca mobil terbuka, dan Teddy tersenyum dari dalam mobil.
   “Dari mana??” Tanya pria itu dengan menggunakan bahasa Ibu Ghea.
   “Ahh,,aku baru saja menghadiri undangan seorang teman, kau??”
   “Menuju suatu tempat, butuh tumpangan?? Sepertinya kita searah” Ghea membulatkan kedua bola matanya, dan tersenyum kecil. “Jika kau tidak keberatan”. Dan sekejap pintu mobil terbuka dari dalam, ia mengambil posisi duduk disamping pria itu.
Ada sesuatu di dalam hatinya yang kini membuatnya ingin tersenyum, bahkan ingin selalu tersenyum. Namun jika ia menuruti hasratnya tersebut pasti Teddy akan bertanya apa yang membuatnya tersenyum,  atau bahkan pria itu akan menganggapnya gila. Jadi dia hanya bisa menahan rasa berbunga-bunga yang timbul saat ia bertemu pria ini.
   “Kau turun dimana??” Pertanyaan pria itu sontak membangunkan Ghea dari lamunannya, ia masih belum sepenuhnya sadar dengan pertanyaan tersebut dan hanya menanggapi dengan gumaman “Hmm??”.
   “Kau mau turun dimana adik Ghea??” Ujar pria disampingnya tersebut dengan nada sedikit menggoda. Menyadari bahwa ia hampir sampai dari tempat tujuannya, ia menunjuk belokan depan untuk berhenti. “Aku turun disitu saja, aku harus membeli sesuatu”.
Tanpa dikomando ulang teddy membelokkan kemudi menuju jalanan depan toko perlengkapan menjahit, dan menghentikan mobilnya disana. “Thank’s yah”. Menanggapi hal tersebut teddy hanya tersenyum hangat dan mengangguk. “Senang bisa..” Ghea berujar sangat lirih mungkin pria ini tidak mendengar apa yang akan diucapkan ghea hingga ia beranjak turun dari mobil. Tersenyum dan mengantar mobil pria tersebut dengan tatapan lembut yang berlalu makin jauh “Senang bisa bertemu denganmu lagi”.
      JJJ

   Tuhan menciptakan perjumpaan dan tentu akan disusul dengan perpisaahan. Apa yang ada di dunia ini kelak tak akan pernah memimiliki sifat abadi. Hanya cinta yang abadi, walaupun yang bercinta mati,walaupun yang memiliki cinta telah pergi. Namun cinta itu akan tetap ada dan kekal.
Steffany berdiri di balik meja dapur sembari menggunakan celemek bermotif bunga-bunga berwarna ungu. Ia kini sedang sibuk melakukan hobby yang amat ia gemari untuk membuat kue kering. Dan yang menjadi costumer pelanggannya tentu saja kekasihnya Teddy. Pria itu akan memberikan penilaian baik akan segala masakan yang ia buat, karena steffany memang memiliki nilai A dalam hal ketrampilan membuat kue.
Gadis itu nampak cantik dengan senyum tersungging di bibirnya, karena satu-satunya hal yang membahagiakan didunia ini baginya adalah membuat kue. Ia bisa bereksplorasi macam-macam dengan bahan-bahan makanan didapur. Terutama jika kue itu dibuat khusus untuk Teddy, ia mencetak adonan dengan bentuk yang bermacam-macam. Kemudian sepenuh hati ia memasukin adonan yang siap panggang itu kedalam oven.
      TEEETTTT!!! TEEEETTT!!
Bell pintu apartmentnya berbunyi, pasti kini teddy sudah berdiri di depan pintu untuk mengunjunginya. Gadis itu berjalan gontai untuk membukakan pintu kekasihnya. Dan tak ayal teddy tengah berdiri didepan pintu membawa bouquet bunga lavender kesukaanya.
   “Morning sweet heart, beautifull flower for beautifull girl”, sapanya dengan senyuman mengembang, dan segera sebuah ciuman hangat mendarat di kening steffany.
   “Smell good hon, thanks”. Gadis itu tersenyum mencium aroma bunga lavender di tangannya kemudian langsung menatanya di pot bunga kaca yang terletak di meja tamu. Saat itulah saat yang sangat tidak ia harapkan terjadi, tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit sekali hingga membuatnya tidak tahan dan melepaskan pot kaca berisi bunga lavender ke lantai. Ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi kecuali rasa sakit yang amat sangat yang membuatnya lebih memilih mati daripada harus meraskan penderitaan tersebut.
Teddy yang panik melihat kekasihnya kesakitan, keluar meminta bantuan pada tetangga kamar apartment Steffany. Beberapa tetangga datang membantunya membopong tubuh gadis itu menuju mobil teddy yang terparkir di lantai bawah. Dan sebagian mengamankan ruang apartment termasuk mematikan kompor dan oven di dapur.
      JJJ

   Hari ini Ghea akan mengantar tante Ana mengunjungi salah satu sahabatnya dirumah sakit The Royal London Hospital didaerah Whitechapel. Ia dan tante Ana sudah siap membawakan Beberapa kotak Ice Cream untuk teman tante ana yang baru saja menjalani oprasi amandel. Ghea tampak manis dengan Sweater Hello Kitty berwarna Pink dipadu dengan celana jins berwarna kelabu serta tak lupa syal rajutan berwarna senada dengan celananya membalut leher Ghea.
Ia dan tante ana menuju rumah sakit diantar oleh sahabtnya yang paling setia siapa lagi kalau bukan Charlie. Melihat Sahabatnya yang terlihat Cantik dengan pipi putihnya yang tampak kemerhan. Membuat ia merasa gemas, namun ia hanya bisa tersenyum melihat tingkah gadis bertubuh mungil itu yang tampak gesit saat berjalan dengan tantenya.
   “Pinky Girl??” Celoteh Charlie yang Sontak membuat Ghea mengernyitkan kening, “Ada apa? Aku tidak pantas mengenakan warna ini??” Ghea yang duduk di samping charlie menggerutu sambil memperhatikan pakainnya, apakah dia salah kostum atau tidak untuk menjenguk orang sakit.
   “No..kamu manis menggunakan itu, aku serius loh”.”sudahlah Ghea tante bilang apa, baju yang tante pilihkan untukmu itu pasti cocok dan bagus, kapan kamu bisa mempercayai tantemu ini”. Tante Ana menimpali yang tiba-tiba muncul dari arah kursi tengah mobil VW milik Charlie. Ghea hanya mengangguk sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, suatau kebiasaan Ghea sejak kecil jika ia merasa tidak nyaman.
Bau obat-obatan menusuk indra penciumannya ketika ia memasuki sebuah banguanan bergaya eropa dengan dinding bercat putih bersih. Kini mereka tengah berada di lobby rumah sakit menanti tante ana yang sedang mengkonfirmasi ruangan kamar tempat temannya dirawat. Hingga mereka mengikuti langkah tante Ana menuju sebuah kamar yang berukuran medium dilantai dua. Ia memasuki ruangan tersebut tentu saja tetap ditemani oleh charlie yang mengekor dibelakangnya.
   “Dilihat dari wajahnya, teman tante ana sepertinya baik-baik saja” Bisiknya pada charlie usai menarik-narik lengan cowok itu agar sedikit membungkuk. Charlie hanya mengendikkan bahu sambil mengerutkan dahi. Teman tante Ana yang ternyata bernama Claudia ini nampak sehat bugar dengan make up sempurna yang menghiasi wajahnya, tak lupa warna rambutnya yang ungu terlihat sangat mencolok. Namun mereka akui bahwa Tante-tante ini tampak terlihat cantik walaupun dengan gayanya yang sedikit freak.
Mendengarkan Tantenya mengobrol panjang lebar dengan pembahasan yang mereka tidak mengerti membuat Ghea dan charlie merasa bosan.
   “Tante aku ke Toilet dulu yah”. Ujar Ghea sambil menunjuk pintu keluar kamar.
   “Tentu Dear, jangan sampai aku harus memasang popok bayi untukmu kan??” Ujar tante Ana sambil menggoyangkan tangannya.
Ghea berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan di pojok rumah sakit yang terdapat sign system arah toilet. Ia berjalan tergesa-gesa hingga tanpa sadar tubuhnya limbung dan hampir saja terjatuh  saat menabrak tubuh seseorang. Ia tidak bisa berfikikir apa – apa saat seseorang yang ia tabrak memegangi dan menahan tubuh mungilnya agar tidak terjatuh.
   “Sorry..sorry, aku tidak...” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya ketika orang itu menyapa gadis bertubuh mungil itu.
   “kau?” Ujar Teddy sambil mengangkat alis.
      JJJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar